0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Polresta Solo Diminta Kembalikan Motor yang Disita

dok.timlo.net/heru murdhani
(Ilustrasi) Satlantas Polresta Surakarta (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Satlantas Polresta Solo diminta segera mengembalikan sepeda motor yang dianggap disita secara tidak sah dalam putusan sidang praperadilan, Senin (7/9) lalu. Putusan sidang praperadilan atas kasus penangkapan dan penyitaan barang bukti milik Syaiful Arifin (21), warga Sumber, Banjarsari, Solo tersebut dinyatakan tidak sah dan melawan hukum oleh hakim tunggal Miong Ginting.

“Putusannya sudah jelas dari pengadilan, yang dilakukan oleh anggota Satlantas tidak sah. Selain itu, dari kepolisian juga mengakui tidak ada laporan,” terang pengacara korban, Arif Sahudi, Kamis (10/9).

Dikatakan, kejadian bermula saat Syaiful (korban) mengalami kecelakaan di kawasan Banyuanyar, Banjarsari pada 2 Juni lalu. Korban merasa ditabrak dari belakang dan pingsan di lokasi kejadian.

Namun, setelah korban pulih pada tanggal 19 Agustus sekitar pukul 20.00 WIB, rumah korban di Desa Gedongan, Colomadu, Karanganyar dihampiri anggota Satlantas Polresta Solo berpakaian preman.

Kuasa hukum sekaligus Ketua Lembaga Pengawasan Pengawalan dan Penegakan Hukum Indonesia (LPPPHI) Arif Sahudi mengatakan, kejadian bermula saat Syaiful mengalami kecelakaan di dekat Apotek Nur Asyifa, Banyuanyar, Banjarsari, (2/6). Korban merasa ditabrak dari belakang dan pingsan di lokasi.

Namun setelah korban pulih, pada (19/8) sekitar pukul 20.00 WIB, rumah korban yang berada di Desa Gedongan, Colomadu, Karanganyar dihampiri anggota Satlantas Polresta Solo berpakaian preman bernama Agus. Dia datang bersama orang bernama Sentot, anak korban meninggal akibat kecelakaan yang dialami Syaiful.

Tanpa menunjukkan identitas, surat tugas maupun lapor ke pejabat desa setempat, polisiĀ itu meminta korban untuk datang ke Polresta Solo guna dimintai keterangan. Anggota itu mengatakan, atas perintah atasan supaya membawa serta sepeda motor yang digunakan sebagai syarat klaim asuransi Jasa Raharja.

Dikantor polisi, korban dipaksa mengakui bahwa dirinya menabrak seseorang agar klaim asuransi Jasa Raharja dapat segera dicairkan. Namun Syaiful meminta waktu untuk musyawarah dengan keluarga. Sedangkan, kendaraan Syaiful jenis Suzuki AD 6062 GS beserta surat dan SIM ditinggal di Satlantas.

“Kami sangat menyesalkan tindakan yang telah dilakukan penegak hukum negara,” tegas Arif.

Penyitaan yang dilakukan tanpa memberikan bukti penyitaan atau tanda terima apapun ini dinilai suatu bentuk pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat yang tinggal di negara Indonesia.

“Sidang sudah diputuskan tapi sampai hari ini tidak ada yang mengembalikan, jika polisi tetap arogan saya akan ambil tindakan lebih lanjut,” ungkapnya.

Dia akan melaporkan tindakan tersebut ke Propam. Selain itu pihaknya juga mengancam melanjutkan ke guguatan perdata perbuatan melawan hukum.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge