0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tren Diet Baru di Cina Gantikan Makanan Dengan Sinar Matahari

Diet matahari

Dok: Timlo.net/Daily Mail.

Diet matahari

Timlo.net—Bila beberapa orang sibuk menyiapkan makan malam sebelum matahari terbenam, sekelompok wanita ini berkumpul untuk melakukan hal yang sangat berbeda. Mereka menatap langsung ke matahari karena percaya sinar matahari bisa menggantikan makanan, memperbaiki penglihatan dan kualitas tidur. Diet sinar matahari ini menjadi tren kesehatan baru di antara para wanita di Hong Kong.

Para wanita yang berusia 20 hingga 30 tahun ini dikabarkan menuju pantai di Desa Sam Ka di Lei Yue Mun setiap sore dan melepas sepatu serta kaca mata sebelum menyalakan timer di ponsel dan berdiri untuk menatap matahari tenggelam. Beberapa wanita menggunakan payung atau sebuah tisu untuk melindungi kulit mereka.

Konsep menatap matahari atau “memakan matahari” ini mengajarkan jika mengkonsumsi energi solar matahari dan bukannya makanan bisa mengurangi kebutuhan tubuh akan makanan. Dalam foto-foto yang beredar di sebuah media Cina, para wanita ini berjejer untuk menatap sinar matahari, seakan tidak sadar akan adanya orang di sekitar mereka.
Beberapa wanita memakai kacamata untuk membatasi sinar matahari yang masuk ke dalam mata. Beberapa orang menyatakan jika mereka melakukan hal ini untuk alasan kesehatan dan bukan untuk menurunkan berat badan. “Kami berlatih memandang matahari sebagai pengganti makan. Beberapa orang yang menyelesaikan terapi ini makan lebih sedikit dan beberapa orang yang lain tidak makan sama sekali,” kata seorang wanita kepada Oriental Daily.

Dia berkata mereka mulai terapi dengan menatap matahari selama 10 detik di hari pertama. Setiap harinya mereka menambahkan durasi 10 detik hingga mereka mampu menatap selama 44 menit pada bulan kesembilan mereka menjalani terapi.

Ahli dermatologi, Hou Xiang Jun kuatir dengan tren baru ini. Berkata jika di wilayah subtropis, tingkat sinar ultraviolet yang tinggi dan pantulan air membuat orang menyerap sinar ultraviolet terlalu banyak.

“Bahkan jika memakai tabir surya, hanya sekitar 5 hingga 6 persen bagian tubuh yang terlindungi, payung atau topi hanya bisa melindungi 10-20 persen dan terpaan yang lama serta kulit yang terbakar matahari akan meningkatkan resiko terkena kanker kulit,” kata Xiang Jun.

Ahli ophthalmologi juga kuatir akan adanya gangguan penyakit lainnya seperti katarak, degenerasi makular, konjungtiva sebagai efek samping terapi ini.

 

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge