0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Revisi Proyek Listrik Dikritik

merdeka.com

ilustrasi

Timlo.net – Target pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW direvisi menjadi hanya 16.167 MW untuk jangka waktu hingga 2019. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli beralasan agar PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak bangkrut.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reforms, Fabby Tumiwa berpendapat, kelebihan pasokan memang harus ada agar pasokan listrik tetap stabil. Ketika PLN melakukan perawatan, tidak mungkin listrik dimatikan karena bisa menghabiskan waktu dua hari bahkan hingga tiga bulan.

“Saat itu kan dipakai cadangan tadi, bagaimana menteri ini mikirnya. Kalau enggak ngerti teknis jangan ngomong teknis lah,” ujar Fabby, Selasa (8/9).

Selain itu, kelebihan pasokan listrik juga diperlukan karena permintaan dalam negeri terus naik seiring tumbuhnya perekonomian. Tidak mungkin ketika mencapai beban puncak dan permintaan listrik berhenti.

“Kalau tidak kita bangun, Indonesia bisa krisis listrik di 2021. Kalau begitu nanti kita harus mulai lagi besar-besaran 2021. Antisipasinya makanya dibangun sekarang. Kalau nanti krisis listrik 2021 kita salahkan Menko Rizal ini,” tegasnya.

Menurut Fabby, kelebihan pasokan pada 2019 mendatang juga tidak akan sebesar yang dihitung Rizal Ramli. Pasalnya, belum tentu semua proyek bisa selesai tepat waktu. Akan ada proyek yang baru mulai digarap 2018 namun masuk dalam megaproyek 35.000 MW.

“35.000 MW engga mungkin semuanya terbangun dan terpakai di 2019. Mungkin selesainya 2022 dan 2023 karena ada yang dibangun 2018. Kalau sekarang dikurangi maka tingkat suksesnya juga makin rendah,” tutupnya.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge