0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hakim Perintahkan Umar kembali ke Tahanan

Sidang di Pengadilan Negeri Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Penangguhan penahanan tersangka kasus penggelapan, Umar Edrus Al Habsy (48) ditolak Pengadilan Negeri (PN) Solo. Terdakwa berurusan dengan perusahaan tekstil di Boyolali, PT Safarijunie Textindo Industry (Safaritex) dan dituduh menggelapkan dana sebesar Rp 3,1 miliar. Namun pihak terdakwa bersikeras kasus tersebut merupakan ranah perdata, pasalnya menyangkut utang piutang.

“Silakan kembali ke tahanan (Rutan Solo –Red), kami tidak bisa mengabulkan karena ini ranah pidana,” kata Ketua Majelis Hakim, Bahtra Yenni W.

Sementara, kuasa hukum terdakwa, Adi Sunata mengatakan, kliennya telah ditahan sejak 6 Agustus lalu. Seharusnya, kliennya tersebut tidak ditahan. Pihaknya menduga ada persekongklan untuk menjebloskan kliennya ke penjara. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan bukti untuk menegaskan permasalahan Umar ke ranah perdata.

“Sudah hampir 1 bulan, kami tegaskan ini ranahnya perdata karena ada perjanjian dagang,” ungkapnya.

Adi mengatakan perkara ini berawal adanya permohonan Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh Umar ke Pengadilan Niaga Semarang dengan putusan no. 01/Pdt.Sus-PKPU/2014/PN.Niaga.Smg tanggal 23 Juni 2014. Permohonan PKPU yang diajukan Umar diterima dan diputuskan oleh pengadilan niaga, utang dagang Umar dibayar oleh kurator dalam kepailitan.

Tetapi pada 25 Agustus 2014,  perusahaan Safaritex melaporkan Umar ke Polresta Solo dalam perkara tindak pidana penipuan dan penggelapan.

“Utang Umar seharusnya Rp 52 miliar, dan saat ini tinggal Rp 23 miliar. Dengan dipailitkan Umar bisa membayar utang tersebut secara Perdata. Namun Dipotong-potong ketemu angka Rp 3,1 miliar yang mendesak klien kami seolah-olah ini permasalahan pidana,” terangnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge