0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Samuel Khristianto, Tak Ingin Pisah dari Dunia Mall

foto: David

Samuel Khristianto

Solo Baru — Bagi Samuel Khristianto, mengelola mall bagaikan mengelola kota kecil. Ada segudang persoalan melingkupinya. Namun, Samuel melihat persoalan itu sebagai tantang­an untuk diselesaikan.

Selama perjalanan karirnya, Direktur Hartono Mall, Solo Baru ini telah menggawangi beberapa mall dengan tantangan yang berbeda-beda. Lika-liku persoalan dalam pekerjaan membuat Samuel menikmati pekerjaannya hingga kini.

“Di mall itu kan kayak kota kecil. Banyak sekali masalah. Kita membantu memecahkan masalah mereka. Itu yang kita lakukan,” kata Samuel saat menerima TimloMagz.

Berbagai persoalan itu, misalnya pertikaian antar tenan, persoalan listrik, te­nan yang merugi, antisipasi kebakaran, perilaku bisnis yang tidak sehat dan pernik-pernik persoalan lainnya. Sebagai “walikota”nya mall, Samuel memastikan berbagai problem itu bisa diselesaikan satu per satu.

Meski jatuh hati pada bisnis mall, di awal karirnya, Samuel tidak berkecimpung di dunia itu. Sekitar tahun 2000, Samuel terjun di pertambangan di Rembang, Jawa Tengah. Pilihan kerja di pertambangan tidak lepas dari background pendidikannnya sebagai Sarjana Tehnik Sipil dari Universitas Merdeka, Malang.

“Ternyata saya tidak betah kerja di tambang. Panas dan nggak ada hal lain yang bisa dilihat. Akhirnya, 2003 saya masuk ke Galaxy Mall Surabaya, sekitar tahun 2003,” tutur dia.

Begitu kerja di mall, Samuel merasa menemukan kecocokan. Dari situ, ia mulai mengenal bisnis ritel. Dari persinggungannya itu pula ia belajar membangun networking. Lelaki kelahiran Banyuwa­ngi, 9 September 1974 ini memulai karir sebagai koordinator tenant hingga dipercaya sebagai Operation Manager.

Dari Surabaya, tahun 2008 Samuel pindah mall dan pindah jabatan ke Jakarta. Ia bergabung dengan Cilandak Town Square (Citos). Waktu itu, Citos hendak melebarkan saya dengan rencana mendirikan Surabaya Town Square (Sutos). Samuel diminta di Jakarta untuk mempersiapkan berdirinya Sutos.

“Saya di Citos mulai dari Senior Ma­nager sampai Deputi General Manager. Di sana berbeda konsep, bukan shoping mall lagi. Lebih ke lifestyle mall. Karena konsepnya berbeda jadi butuh tantangan lagi. Lebih pada cafe yang menunjang orang beraktifitas 24 jam. Bener-bener dunia yang beda. apalagi waktu itu, Citos dikenal sebagai tempat nongkrong artis. Saya belajar banyak tentang kehidupan artis,” urai dia.

Setelah tiga tahun di Citos, Samuel kemudian mendapat penawaran mengelola properti internasional, milik sebuah grup bisnis terkemuka di Hongkong. Kali ini, properti ini lebih lebih merupakan travel agent. Di situ ada arena berkuda, resto, asrama. Di tempat baru ini, suami dari Linda Wiyanto ini kembali belajar banyak hal baru.

Namun, entah mengapa Samuel tidak betah di travel agent. Ia merasa kangen untuk kembali ke mall. Ia kemudian memilih kembali ke Indonesia dan berlabuh di Solo, tahun 2014.

“Saya merasa jenuh mengelola tourism. Saya kangen dengan mall. Akhirnya saya kembali ke Indonesia dan masuk di Hartono Mall ini,” beber dia.

Meski sudah malang melintang de­ngan berbagai pengalaman, sebagai General Manager Hartono Mall, Samuel menemukan tantangan tersendiri. Kultur Solo yang berbeda mau tidak mau harus membuatnya menyesuaikan diri. Kultur Solo dirasakannya lebih berbeda dengan kultur masyarakat daerah lain se­perti Surabaya dan Jakarta.

“Solo itu kota unik. Dia tidak seperti kota-kota besar lainnya. Saya harus menemukan paduan min dan max mall secara tepat. Tenan tidak kecewa, tetapi costumer juga happy,” pungkas bapak dua anak ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge