0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Kisah Michelle, Jadi Direktur Berawal dari Coba-Coba

foto: David

Michelle Tjokrosaputro

Solo — Kesan formal nyaris tidak terlihat pada diri Michelle Tjokrosaputro saat menerima TimloMagz di kantornya, bulan lalu. Sehabis jogging di area pabrik, dengan masih mengenakan pakaian jogging, Michelle bercerita ceplas-ceplos. Gaya bicaranya lepas, jauh dari nuansa formal.

Kurang lebih sudah 11 tahun, Michelle memimpin PT Dan Liris, perusahaan garmen dan tekstil terkemuka warisan sang ayah, Handiman Tjokrosaputro. Ia terbukti berhasil meneruskan jejak sang ayah mengelola perusahaan dengan pangsa pasar ekspor.

Michelle tidak menyangka bakal menjadi penerus ayahnya untuk menah­kodai PT Dan Liris. Perempuan kelahiran Karanganyar, 22 Mei 1980 ini dahulu merasa tidak paham dengan garmen, apalagi tekstil. Selain itu, saat kuliah di American University, Perancis, Michelle mengambil jurusan Bisnis dan Komunikasi, ­bukan tekstil atau garmen. Permintaan ayahnya yang kemudian membuat dia luluh untuk mau terlibat mengurus PT Dan Liris.

“Awalnya bukan buat jadi penerus. Hanya diminta bantuin sama papa. Waktu itu sebenarnya saya nggak mau kerja di sini. Saya sudah kerja sendiri masukin tas ke carrefour, matahari. Semacam UKM begitulah. Tetapi karena ada permintaan itu dan ayah saya sakit-sakitan akhirnya saya mau bantu, sekitar tahun 2004,” kata Michelle.

Michelle merasa kakak perempuan­nya yang bakal diminta meneruskan usaha sang ayah. Pasalnya, kakak Michelle yang mengeyam pendidikan tekstil dinilai lebih memahami soal garmen dan tekstil. Namun, takdir berkata lain. Sang kakak ternyata lebih memilih fokus pada usaha di Jakarta. Sementara, ayahnya juga kemudian meninggal di 2006. Mau tidak mau, akhirnya Michelle yang mengelola PT Dan Liris.

Di awal mengelola Dan Liris, Michelle masih belum yakin dengan “nasibnya” di Dan Liris. Ia masih belum yakin apakah memimpin Dan Liris adalah masa depannya. Terlebih sebagai perempuan, ia kemudian menikah dan harus mengurus keluarga.

“Yang selalu di bayangan saya waktu itu, apa benar saya mau kerja di sini seumur hidup? Bolak-balik Solo-Jakarta tiap minggu. Nggak kebayang, apakah akan terus atau tidak. Saya nggak ngerti teks­til satupun. Garmen juga. Garmen aja nggak ngerti apalagi tekstil. Saya juga merasa tidak sepintar dan serajin kakak saya. Apakah ini akan jadi masa depan saya. Di situ tantangannya,” beber dia.

Meski sempat diwarnai keraguan, Michelle terbukti sukses memimpin Dan Liris hingga sekarang. Karakternya yang informal ikut berpengaruh pada cara dia menangani Dan Liris. Jika ayahnya dulu menghandle segala persoalan secara langsung, tidak demikian dengan Michelle. Beberapa persoalan ia tangani dari Jakarta. Ia berkomunikasi dengan bawahannya dengan Blackberry, email dan Yahoo Messenger. Saat itu, penggunaan Blackberry belum sefamilier saat ini.

“Saya hampir tidak pernah bersera­gam, kecuali saat ayah masih ada dulu. Di Solo paling hanya untuk ketemu orang. Administrasi yang harus saya tandatangani secara langsung sudah berkurang banyak. Saya memang tidak bisa mengikuti gaya bapak. Banyak hal saya dele­gasikan,” ujar Michelle yang kini juga dipercaya sebagai Vice Chairman of Foreign Trade Badan Pengurus Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia.

Michelle menyadari, operator merupakan ujung tombak perusahaannya. Karena itu, saat berada di Solo, setiap pagi, anak kedua dari empat bersaudara ini jogging di area pabrik. Sambil jongging, Michelle menyapa dan berkomunikasi dengan karyawannya yang paling bawah terutama operator. Komunikasi itu menjadi masukan baginya saat mengambil banyak keputusan termasuk soal gaji.

“Percuma saya marahin direktur, kalau sebenarnya dari operator saya itu terhambat. Jadi, ya walaupun nggak setiap hari, saya nengokin. Saya berusaha melihat orang di bawah. Karena bagi saya, mereka itu penentunya,” pungkas dia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge