0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Prof Sugiyarto : Pangkas Privatisasi Air, Kelola dengan Kearifan Lokal

timlo.net/aditya wijaya

Prof Sugiyarto MSi

Klaten — Institut Javanologi bersama Kelompok Studi Biodiversitas UNS Solo menggelar sarasehan budaya ’Klaten Nagari Seribu Oemboel’ di pelataran sumber air Surya Wening, Dukuh Gereh, Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Senin (31/8).

“Sarasehan ini berangkat dari sejarah bahwa semua kerajaan besar pasti berada didekat sungai besar, dan Klaten ini menjadi lumbung pangan baik saat Mataram kuno maupun Mataram baru,” kata pemerhati budaya, Prof Sugiyarto MSi, Senin (31/8).

Menurut dia, Klaten memang kaya dan makmur karena airnya. Tetapi sekarang menjadi sangat terbatas bagi rakyatnya sendiri. Bahkan keberadaan sumber air terkesan terbengkalai.

Disisi lain, air dieksplotisasi secara individu. Privatisasi air sekarang luar biasa, mulai dari Hotel hingga dikelola perusahaan air minum dalam kemasan. Padahal Undang – Undang menjamin air digunakan untuk hajat hidup orang banyak.

“Contoh Kemalang sebagai daerah resapan air disuruh menanam macam-macam, tapi ketika kemarau malah beli air. Ini persoalan keadilan, pemerintah seharusnya bisa membuat infrastruktur kearah sana (lereng Merapi). Hak-hak mereka tidak hanya daerah konservasi, tapi juga bisa menikmatinya,” imbuh dosen program studi Biologi FMIPA UNS ini.

Selain itu, alternatif lain untuk mengatasi krisis air adalah kompensasi atau CSR perusahaan air dikembalikan ke sabuk Merapi. Kendati demikian, pihaknya ingin menghidupkan kembali sendang-sendang atau mata air sebagai public space. Memangkas privatisasi dengan pendekatan budaya agar air digunakan seoptimal mungkin bagi masyarakat.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge