0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Merosotnya Rupiah terhadap Dollar, Strategi AS Rebut Pasar

dok.timlo.net/tyo eka
Prof Dr Bambang Setiaji (dok.timlo.net/tyo eka)

Sukoharjo – Pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Dr Bambang Setiaji mengemukakan bahwa naiknya nilai dollar AS di Asia, tidak lepas dari persaingan antara Amerika Serikat (AS) dengan RRC dalam merebut pasar di kawasan Asia Pasifik.

“Artinya merosotnya nilai rupiah terhadap nilai dollar US merupakan strategi Amerika Serikat dalam merebut pasar Asia Pasifik,” jelas Prof Bambang Setiaji yang juga Rektor UMS saat ditemui Timlo.net, di ruang kerjanya, Kampus UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (28/8).

Saat ini Bank Central Amerika Serikat menaikkan suku buka sehingga uang dollar US kembali ke Amerika Serikat, ditambah adanya perbaikan perekonomian di Amerika Serikat. Karena itu, mata uang dollar US banyak ditarik ke Amerika Serikat. Sehingga nilai mata uang dollar
menjadi naik.

“Salah satu buktinya, merosotnya nilai mata uang rupiah hanya pada dollar US saja, sedang mata uang lainnya tetap,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Guru Besar Ekonomi UMS, agar nilai mata uang rupiah stabil terhadap nilai mata uangnya keras seperti Amerika Serikat dengan dollar US atau Eropa dengan Euro, dan Negara yang sumber daya manusianya tidak melimpah. Sehingga proyek-proyek infrastruktur tidak membawa tenaga kerja dari negara investor.

“Kalau tenaga kerjanya asing, sedang kita surplus tenaga kerja, akan menimbulkan kemarahan rakyat,” ungkapnya.

Bambang menandaskan, pemerintah harus peka oleh hal itu. Misalnya pembangunan infrastruktur Solo – Bandung yang dipegang oleh Jepang, seyogyanya memasukkan investor Amerika Serikat, sehingga Amerika Serikat membawa kembali dollar USnya masuk Indonesia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge