0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mahasiswa KKN Unisri Beri Motivasi Wirausaha

Ibu-ibu diberi motivasi wirausaha (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Perempuan Indonesia berperan multi ganda, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, juga dituntut  mampu mengelola keuangan keluarga. Bahkan tidak hanya itu, disaat situasi krisis menghadapi ekonomi yang serba sulit seperti saat ini, diharapkan bisa membantu  dan menyokong  pemasukan keuangan keluarga.

Demikian ungkap Direktur Amalia Consulting, yang juga dosen Program Studi Akuntansi dan MM Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta, Suharno saat memberi motivasi wirausaha bagi anggota dan pengurus PKK  Desa Jetis, Karangpung, yang digelar mahasiswa KKN Unisri, di Sragen,

“Ibu-ibu seyogyanya tidak menggantungkan 100 persen pendapatan keluarga dari suami. Usahakan di rumah punya usaha sampingan. Misalnya  menjahit, membuat kue, berjualan sembako dan lain-lain. Usaha seperti ini nampaknya kecil, namun  bila dikelola dengan baik sangat membantu perekonomian keluarga. Minimal bisa  untuk membayar biaya sekolah anak,” ungkapnya melalui rilis yang diterima Timlo.net, Selasa (25/8).

Lebih lanjut Suharno mengungkapkan, sekitar 60 persen pelaku UMKM adalah perempuan. Perempuan ternyata memiliki potensi dan peran yang sangat besar dalam menegakkan ekonomi keluarga. Sayangnya selama ini masih dilihat sebelah mata oleh lingkungan dan pemerintah.

“Dalam bidang wirausaha perempuan lebih dapat diandalkan dibanding laki-laki. Bahkan perempuan yang berusaha disektor informal lebih amanah dalam mengelola keuangan dibandingkan pengusaha perempuan. Berdasarkan data yang ada NPL (non performance loan) untuk wirausaha perempuan 0 (nol) persen, sedangkan NPL untuk pengusaha perempuan mencapai 3 persen,” jelasnya.

Motivasi wirausaha yang diselenggarakan di Balai Desa Jetis tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa KKN Unisri. Ketua panitia, Zahria Setyo Laksono menjelaskan, tujuan diselenggarakan kegiatan dalam rangka menumbuhkembangkan semangat kemandirian finansial bagi ibu rumah tangga.

“Berdasarkan observasi yang kami lakukan, sebagian besar ibu-ibu di desa ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sumber nafkah keluarga hanya dari suami. Padahal dengan besarnya tuntunan kebutuhan rumah tangga. Penghasilan suami tidak akan mencukupi. Bila hal ini tidak dicarikan jalan keluarga, akan menimbulkan masalah serius. Gali lubang tutup lubang,” jelasnya. (*)

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge