0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Aisyiah dan Muslimat NU Harus Ada Komunikasi

dok.timlo.net/tyo eka
Imroatul Istiqomah (dok.timlo.net/tyo eka)

Sukoharjo – Aisyiyah sebagai organisasi otonom Muhammadiyah dan Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) di bawah organisasi NU seharusnya ada komunikasi di antara keduanya. Bahkan harus saling melengkapi.

“Ketika keduanya saling bisa mengkomunikasikan program-programnya dan lain sebagainya, otomatis hasilnya akan lebih baik bagi kemajuan bangsa,” ungkap Imroatul Istiqomah SFilI MPI, wisudawan Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terkait hasil penelitiannya tentang Pemikiran Keagamaan Aisyiyah dan Muslimat NU dalam bidang Dakwah Politik dan Gender, di Kampus UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (24/8).

Namun yang terjadi sekarang, menurut Imroatul yang lulus dengan IPK 4,00, keduanya kurang komunikasi atau masih ada dikotomi. Masing-masing masih kaku dengan organisasi induknya, baik Muhammadiyah maupun NU. “Bahkan kadang-kadang kayak ada persaingan,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, dalam hal dakwah, Muslimat NU yang berkiblat pada NU dan banyak bergerak di daerah pedesaan, tetapi Aisyiyah umumnya bergerak di perkotaan.

Namun demikian dalam hal politik, keduanya berperan aktif. Hanya saja, Aisyiyah apabila personalnya selama berperan aktif dalam bidang politik maka dikeluarkan dari kepengurusan Aisyiyah. Tetapi dalam Muslimat NU bisa merangkap, yakni selain terjun politik bisa merangkap jadi pengurus Muslimat NU.

Imroatul mengharapkan, baik Aisyiyah dan Muslimat NU sebagai organisasi besar yang memiliki basis luas dan sudah terorganisir dari bawah ke atas ke depan harus memiliki program yang mengubah Indonesia lebih baik, terutama untuk kaum wanita.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge