0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Solar Dibatasi, Industri Rumah Tangga Menjerit

dok.redaksi

ilustrasi

Wonogiri – Pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar membuat kalangan industri rumah tangga dan petani kerepotan. Soalnya, solar tidak bisa dijual bebas di tingkat pengecer.

“Jarak SPBU dengan rumah saya itu jauh. Padahal kita hanya butuh lima liter saja,” ujar perajin tahu, Harni(45), warga Kecamatan Giritontro, Minggu(16/8).

Kini, ia harus menempuh 10 km untuk mendapatkan solar 5 liter. Menurutnya aturan ini cukup menyusahkan dirinya.

Hal senada diutarakan Suyono, pemilik hand traktor asal Kecamatan Tirtomoyo ini juga mengaku kelimpungan setelah pengecer dilarang menjual solar bersubsudi. Selain jarak SPBU dengan rumahnya lumayan jauh, waktunya juga terbuang sia-sia.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi(Disperindagkop UMKM) Wonogiri, Guruh Santosa mengatakan, aturan pembatasan solar subsidi telah diatur dalam Perpres Nomor 191 Tahun 2014 tentang penyedian, pendistribusian dan harga jual eceran BBM bersubsidi.

“Pembelian solar di SPBU itu harus mendapatkan rekomendasi dari dinas terkait di tingkat kabupaten kota. Jadi sebenarnya tidak dibatasi apalagi dilarang,” terangnya.

Menurut dia, dinasnya hanya sebatas mengawasi sekaligus sebagai perlindungan konsumen. Soal rekomendasi pembelian solar di SPBU, pihaknya juga memfasilitasinya. Akan tetapi hanya untuk bidang tertentu.

“Selama itu usaha kecil dan mikro yang menggunakan solar, kita yang mengeluarkan rekomendasinya,” jelasnya.

Sedang untuk bidang pertanian, Guruh menyebut pihaknya tak mempunyai wewenang. Dia juga menambahkan, surat rekomendasi pembelian solar mumpunyai tenggang waktu yakni hanya enam bulan.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge