0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Musim Kemarau, Produksi Susu Sapi Turun 25 %

Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto
Seorang peternak sapi perah (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Boyolali — Musim kemarau yang melanda wilayah Boyolali selama tiga bulan ini mulai berdampak ke beberapa sektor. Salah satunya di sektor peternakan sapi perah. Produktivitas susu sapi mengalami penurunan hingga 25% akibat sulitnya mendapatkan pakan hijau, seperti rumput.

“Biasanya satu ekor sapi betina bisa menghasilkan 10 liter susu perhari,sekarang hanya 7-8 liter saja,” ujar Sugiyono (65) peternak warga Dukuh Wonosari, Kelurahan Kemiri, Mojosongo, Boyolali, Jumat (14/8).

Akibatnya, petani mengalami kerugian. Pasalnya, biaya produksi tidak sebanding dengan hasil  penjualan susu. Diakui Sugiyono, agar produksi susu tetap stabil,pihaknya terpaksa membeli pakan hijau-hijauan, sehingga pengeluaran lebih besar.

“Pakan rumput sangat mempengaruhi produktifitas susu sapi, tapi sekarang rumput sudah langka,” imbuh Sugiyono.

Di sisi lain, petani sapi perah lainnya, Sulastri, mengakui harga susu sapi saat ini tidak stabil. Harga susu perliter antara Rp 4.200 hingga Rp 4.400. Harga penjualan susu ini tidak bisa menutup harga pembelian pakan.

“Harga susu sudah tinggi, tapi harga pakan juga terus naik,sulit menghitung untung ruginya,” tambahnya.

Sholeh Anwari, peternak warga Dukuh Slembi, Desa Manggis, Mojosongo, mengaku terpaksa membeli hijauan tanaman jagung untuk menjaga sapinya agar tetap mengeluarkan susu. “Tidak ada cara lain, kalau hanya mengandalkan pakan pabrik saja,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge