0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Negara Minat Investasi Nuklir di Indonesia

dok.merdeka.com

PLTN

Timlo.net – Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia mendapat respon positif sejumlah negara. Mereka juga menyatakan akan ikut berinvestasi di Indonesia.

Direktur Jendral Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana mengaku, sejauh ini Rusia paling agresif menawarkan paket investasi nuklir. Mulai dari pembangunan hingga pendidikan bagi tenaga ahli dalam negeri.

“Yang paling agresif negara yang datang ke kita Rusia. Mereka menawarkan paket yang mulai ngajarin kita, bagaimana nuklir itu dikelola, mendidik orangnya, fasilitasnya, membangunnya, merawatnya, sampai mengurus limbahnya. Mereka paket,” kata Rida di Jakarta, Senin (10/8).

Selain Rusia, lanjut Rida, Iran juga berminat untuk investasi ini. Tercatat Iran berminat investasi PLTN sejak 2012 silam.

“2012-2013. Sudah ngobrol-nogbrol. Baru ngobrol saja, belum sampai write down MoU atau kerjasama konkret belum. Kita lagi mengurutkan perlunya kita apa,” ungkapnya.

Namun demikian, pembangunan pembangkit tenaga nuklir masih menimbulkan pro dan kontra. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi mengungkapkan selama ini masyarakat terjebak salah kaprah memahami penggunaan nuklir untuk sumber energi.

Salah kaprah pertama terkait anggapan jika tenaga nuklir merupakan energi yang murah.

“Itu tidak benar. Betapa mahalnya teknologi nuklir ini,” ujar Rinaldy.

Dia berkaca dari kejadian meledaknya PLTN di Fukushima, Jepang. Akibat kejadian tersebut, standar pembangunan PLTN dibuat tinggi demi keamanan.

Otomatis biaya yang dibutuhkan juga besar. Belum lagi biaya perbaikan jika mengalami kejadian seperti yang dialami PLTN Fukushima yang disebut-sebut menghabiskan Rp 600 Miliar.

“Ini selama 5 tahun Batan tidak berhasil yakinkan DEN,” ujar Rinaldy.

Salah kaprah kedua, anggapan yang menyebut jika Indonesia kaya akan sumber daya uranium. Padahal belum ada bukti yang valid soal ketersediaan bahan baku alam tersebut.

“Saya mendapat data uranium bisa untuk 130 tahun itu tidak benar. Ada dua mantan Menristek mengatakan uranium melimpah karena di laut ada uranium. Keberadaan uranium ini kita belum ada bukti,” tambahnya.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge