0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dinamakan Mani Gajah, Ini Alasannya

dok.timlo.net/agung widodo
Warga Desa Bonagung, Kecamatan Tanon menunjukkan batu yang dipercaya sebagai kristalisasi dari mani gajah purba (dok.timlo.net/agung widodo)

Sragen — Pencarian batu fosil mani gajah masih dilakukan puluhan warga di Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Sragen. Mereka terus menggali di tanah seluas 2 hektar milik Cokro Suwarno dan Gimin, warga setempat.

“Tapi untuk tanah milik Gimin tidak boleh digali oleh pemiliknya, karena ditanami pohon jati,” kata Kepala Desa Bonagung, Suwarno kepada Timlo.net, Kamis (6/8).

Suwarno menjelaskan, disebut mani gajah lantaran bongkahan batu tersebut dipercaya sebagai kristalisasi dari mani gajah purba yang telah berusia ribuan tahun. Nama mani gajah awalnya diperoleh dari Sangiran.
Keyakinan itu diperkuat setelah diteliti orang dari geologi bernama Budi.

“Menurut Pak Budi, batu di sini umurnya sudah ribuan tahun pada jaman es.  Katanya, perkawinan mani gajah itu pada tempat-tempat tertentu, tempatnya di sini. Lha maninya tercecer di sini dan dikubur. Setelah ribuan tahun akhirnya menjadi kristal seperti ini,” jelas Suwarno sambil menunjukkan batu mani gajah.

Sebelumnya, Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto bersama Wakil Ketua DPRD Haryanto meninjau lokasi penggalian di Desa Bonagung. Kedua pimpinan dewan itu ingin memastikan kabar ditemukannya mani gajah yang hampir sepekan ini menjadi buah bibir di Kabupaten Sragen dan sekitarnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge