0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

7 Ribu Hektar Lahan Pertanian di Boyolali Dibiarkan Bero

dok.timlo.net/nanin
Lahan pertanian di Boyolali dibiarkan bero (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Dampak krisis air di musim kemarau semakin meluas. Luasan lahan pertanian yang mengalami kekeringan di Boyolali terus bertambah. Saat ini, 7 ribu hektar lahan dibiarkan bero atau tidak ditanami. Total luasan lahan pertanian yang mengalami kekeringan 10 ribu hektar.

“Dibiarkan bero, karena memang sudah tidak ada sumber air yang bisa diandalkan,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Boyolali, Bambang Purwadi, Rabu (5/8).

Dijelaskan, lahan pertanian yang terkena dampak kemarau, lebih banyak berada di wilayah Boyolali bagian utara, seperti seperti Juwangi, Wonosegoro, Karanggede, dan Kemusu.

“Di wilayah Boyolali Utara, sebagian besar adalah lahan tadah hujan, tanahnya pecah bila kemarau datang,” ujarnya.

Untuk saat ini, lahan banyak dibiarkan begitu saja oleh petani. Sementara untuk mengandalkan sumur dalam maupun sumur dangkal sulit dikembangkan di wilayah Boyolali utara. Hal ini karena tidak ada sumber air yang bisa dimanfaatkan. Satu-satunya upaya yang bisa dilakukan dengan mengali sumber air dengan geolistrik.

Di sisi lain, DPRD Boyolali meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali serius menangani krisis air yang sudah terjadi di beberapa daerah seperti Musuk, Cepogo, Selo, Wonosegoro, Kemusu, dan Juwangi karena kekeringan tahun ini berpotensi menimbulkan krisis sosial. Pemkab juga diharapkan membuat perencanaan penangganan krisis air, mengingat adanya ramalan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa kemarau tahun ini diperkirakan terjadi sampai bulan November atau Desember.

“Bisa menimbulkan krisis sosial bila tidak segera ditanggani,” kata Wakil Ketua DPRD Boyolali, Tugiman B Semita.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan Pemkab Boyolali adalah mengevaluasi beberapa program dan kegiatan yang tidak mendesak  di APBD Perubahan 2015 untuk dialihkan ke penangganan bencana kekeringan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge