0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Gulgor, Gule Dengan Rasa Lebih Unik

foto: David

Gule Goreng

Timlo.net – Seakan tak ada habisnya, kuliner Kota Solo selalu diminati dan dicari. Gule Goreng (Gulgor) menjadi salah satunya. Bentuknya mirip masakan gule biasa, namun rasanya beda. Penasaran?

Tak seperti kebanyakan gule yang disajikan, di Warung Pak Samin yang terletak di Jln. Diponegoro (Perempatan Pasar Pon) ini gulgor menjadi menu andalan. Gule yang biasanya nampak dengan bentuk masakan kuah bersantan warna kuning, disulap menjadi renyah, gurih serta garing. Bagaimana caranya?

Ya, saat berbincang dengan TimloMagz, pencipta menu gulgor ini mengaku resep masakannya tak jauh berbeda dengan dengan gule kuah pada umumnya. Bahan bakunya sama, demikian juga tahap awal memasaknya.

Bedanya, proses memasak tidak berhenti ketika jeroan yang dicampur tetelan daging telah matang menjadi gule. Isian gule kuah itu selanjutnya ditiriskan, lalu digoreng hingga kering.

“Saya menciptakan resep ini 10 tahun silam, karena gule yang dijual pada umumnya telah banyak berada di Solo. Lalu saya mencoba resep baru supaya gule lebih terasa berbeda,” kata Pria yang telah berusia 80-an tahun tersebut.

Sebelum diolah menjadi gule kuah, tetelan daging dan jeroan kambing diiris kecil lalu dimasak dengan air santan encer hingga empuk. Lalu, ditambahkan santan kental beserta bumbu rempah khas dicampur menjadi satu.

Ketika pembeli ada yang memesan gulgor, Isian gule kuah diciduk lalu ditiriskan kemudian digoreng hingga kering.

Dalam menggoreng juga tidak boleh sembrono. Perlu waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan bara arang serta suhu panas tinggi. Terkadang, jilatan lidah api nampak terlihat menjulur hingga ke dalam wajan.

Agar menghasilkan gulgor yang kemripik (kering) dan renyah, daging gule yang dimasukkan terus menerus dibolak-balik.

“Bara apinya harus ajeg (tetap), dan terus diosreng (dibolak-balik) terus,” kata Pak Samin.

Selesai digoreng, gule dihidangkan dengan nasi putih serta kuah yang diletakkan secara terpisah. Pembeli biasa menyantap hidangan ini dengan cara memasukkan nasi putih ke dalam kuah gule.

Rasanya jangan ditanya. Pastinya sedap, gurih dan nikmat menyatu di lidah. Bumbu gule benar-benar merasuk karena proses pemasakan dua kali.

“Terkadang pembeli ada yang mencomoti (mengambil) satu persatu tetelan daging maupun jeroan yang telah digoreng garing,” jelas Pak Samin.

 

Sejak Puluhan Tahun

Warung Pak Samin yang berdiri sejak tahun 1967 juga menyediakan menu lain, diantaranya sate buntel, sate kambing, nasi goreng kambing dan gule kambing.

Dalam menyajikan masakan, Pak Samin terkenal cerewet. Baginya, kebersihan bahan makanan dan bumbu menjadi kunci kelezatan. Anak buahnya pun sudah hafal dengan kebiasaan ini.

Contohnya, setelah kambing disembelih, daging harus dicuci sampai bersih dan dibilas berulang kali. Tak hanya itu, saat mengupas bawang merah dan bawang putih tidak boleh tertinggal kulitnya.

Dalam sehari, 3-4 ekor kambing disembelih. Di hari raya maupun liburan sekolah, jumlah yang disembelih bisa 2-3 kali lipat. Tak hanya melayani warga lokal Solo saja, melainkan pesanan juga datang dari luar kota.

“Kadang juga ada tamu yang menginginkan untuk dibawa ke luar kota. Tapi terkadang juga ada tamu hotel yang memesan untuk disantap di sana,” terang bapak tiga anak ini.

 

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge