0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Secercah Asa dari Tanah Melikan

foto: Aditya

Suharno Harno Prawoko

Timlo.net – Kecamatan Bayat merupakan salah satu penghasil kerajinan keramik terbesar di Kabupaten Klaten. Desa Melikan salah satu yang paling terkenal diantaranya.

Mudah sekali menemukan tempat ini. Gapura besar bertuliskan “Selamat Datang Desa Keramik Pagerjurang Melikan” berdiri megah di tengah jalan raya Wedi-Bayat. Di kiri kanan jalan sejumlah keramik aneka bentuk dipajang di depan rumah-rumah warga. Tak heran jika kawasan ini disebut sentra gerabah dan keramik.

Salah seorang perajin, ialah Suharno Harno Prawoko (46). Sepintas kediamannya mirip dengan semua rumah yang berada di Desa Melikan. Deretan gerabah bermotif batik, mulai dari guci, vas, gelas, piring, kendi, dan lainnya, dipajang pada sebuah rak mengisi teras rumahnya yang berlantai keramik putih.

“Ini (gerabah) tinggal sedikit mas. Terjual banyak saat libur Lebaran kemarin,” ujar pria yang akrab disapa Harno ini saat menyambut TimloMagz.

Almamater Diploma Tiga (D3) jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Surakarta (UNS) ini mengatakan, batik menjadi identitas karya cetakan gerabahnya sejak awal tahun 2010. Menurutnya, seperangkat alat makan berbahan gerabah, seperti gelas, piring, teko, dan kendi, secara fungsional tidak layak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah ia memutuskan menjual aneka bentuk gerabah yang menonjolkan sisi dekoratif ketimbang fungsional.

“Kalau hanya dibakar secara manual mudah korosit. Pasalnya, suhu panas yang dihasilkan sekitar 800 derajat Celcius. Padahal saat gerabah dipanaskan, idealnya suhu berkisar 1.150 derajat. Tapi mau bagaimana lagi, rata-rata perajin disini tidak memiliki alat pemanasnya,” ucapnya.

Karena itulah, beberapa waktu lalu Harno menerima bantuan berupa heater (pemanas) gerabah senilai Rp 25 Juta dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Heater berbahan gas elpiji itu dititipkan kepadanya agar digunakan semua perajin gerabah di desanya.

Ditambahkan, gerabah motif batik karyanya tidak mengikuti berbagai pakem yang sudah ada. Motif bunga, daun, kupu-kupu, spontan muncul dan menggerakkan kibasan kuasnya.

“Saya tidak mau mempersulit diri. Kalau kita memakai motif sesuai pakem maka biaya waktu pengerjaan dan nilai jual pasti tidak ketemu. Karena motif batik itu jenis dan turunannya banyak. Selain itu, bila kita melukis guci pasti ada lekukannya. Sedangkan batik flat dan bisa ditekuk-tekuk,” tambahnya.

Melepaskan Status Guru Bahasa Inggris

Tak disangka, ayah dua orang anak ini merupakan mantan guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun sebagai warga asli Melikan, darah perajin gerabah mengalir pada Harno dari kedua orangtuanya. Pada 2003 ia mulai mengurangi jam mengajar dan kembali terjun dalam bisnis tanah liat ini.

“Tahun 2003 sampai 2007 ekspor gerabah dan keramik dari Melikan sangat bagus. Setelah surut, meski tidak memiliki kemampuan menggunakan alat pemutar, saya beralih dari supplier menjadi murni perajin. Berjalannya waktu, tahun 2010 baru saya memutuskan mencetak gerabah bermotif batik dan booming pada tahun 2012,” kata Harno.

Sebagai Guru Tidak Tetap, selama 12 tahun ia mengajar di SMK Wasis Jogonalan. Kemudian tahun 2013, di SMA Muhammadiyah 8 Bayat, Harno melepaskan status sebagai pendidik. Ia memilih fokus menjalani usaha tersebut. Namun demikian, berkat relasinya sebagai guru, tempat usahanya sering didatangi anak-anak dari tingkat Taman Kanak (TK) hingga perguruan tinggi.

“Bulan Mei kemarin saya penuh. Ada anak PAUD, TK, SD yang menggelar kegiatan parenting disini. Mereka menciptakan hasil karyanya disini lalu dibawa pulang sebagai pembelajaran di sekolah,” ujarnya.

Sesaat kemudian, Harno mengajak masuk ke dalam salah satu ruangan yang ia sebut sebagai laboratorium mini. Bengkel kerjanya itu berlantai plester semen, dengan dinding bercat biru. Di ujung ruangan terdapat dua alat pemutar gerabah miring mini. Lantas ia pun memanggil sang istri, Sri Jarwanti (45). (Teks dan Foto: Aditya Wijaya)

 

 

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge