0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gampar Jurnalis, Bupati Inhu Didemo Wartawan

merdeka.com

Demo wartawan Riau

Timlo.net — Zulkifli Panjaitan (54), wartawan senior salah dari satu media cetak harian terbitan Pekanbaru, mengaku ditampar sebanyak 3 kali oleh bupati Indragiri Hulu (Inhu) Yopi Arianto, Kamis (30/7). Hal itu diduga karena pemberitaan soal dugaan kasus moral asusila. Tak terima rekannya dilecehkan, kawan-kawan seprofesi Zulkifli melakukan aksi unjuk rasa di kabupaten Kampar, Riau, guna memprotes arogansi Yopi.

Belasan wartawan yang bertugas di Kampar pun menggelar aksi damai di Bundaran Balai Bupati Kampar, Jalan Prof M Yamin, Bangkinang Kota, Jumat (31/07). Aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas kepada Zulkifli Panjaitan, yang merupakan anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Inhu.

Aksi ini digelar oleh sejumlah organisasi kewartawanan yang berkedudukan di kabupaten Kampar, antara lain seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Gabungan Wartawan Indonesia (GWI), Forum Wartawan Kampar (FWK) dan Komisi Nasional Wartawan Indonesia (Komnas-WI).

Menurut mereka, kekerasan terhadap Zulkifli telah menambah daftar panjang kekerasan terhadap jurnalis, saat menjalankan tugas mereka sebagai pewarta berita. ”

Kami mengecam kekerasan yang dilakukan Bupati Yopie,” ujar Kimek, salah seorang wartawan dalam orasinya.

Sebab, lanjut Kimek, kekerasan terhadap wartawan dinilai telah menginjak-injak martabat profesi mereka. Para demonstran tak menginginkan kekerasan terhadap wartawan terulang lagi. Kekerasan terhadap insan pers, menurut mereka, merupakan bentuk pelecehan berat terhadap profesi kewartawanan.

“Seharusnya pelaku kekerasan terhadap wartawan itu malu. Berarti mereka sama sekali tidak paham Undang-undang Pers. Ini pejabat ( Bupati Yopi) pula yang diduga menjadi pelakunya,” ketus Kimek.

Kimek menjelaskan, jika saja pelaku memahami Undang-undang Pers, maka pelaku pasti mengerti mekanisme yang telah jelas aturannya tersebut.

“Bukan dengan melakukan kekerasan seperti preman,” ketus Kimek.

Dengan kejadian ini, para pengunjuk rasa mendesak agar UU Pers ditegakkan. Mereka mengingatkan agar pejabat atau public figur siap dikritik, apabila melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan tanpa pengawalan personel kepolisian berseragam itu, aksi berlangsung singkat. Peserta aksi membentangkan kain putih bertuliskan “Yopi Arogan. Stop kekerasan pada pers” sembari menggelar orasinya.

[bal]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge