0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Persaingan Distro di Solo Cukup Ketat

dok.timlo.net/setyo pujis
Persaingan distro di wilayah Solo cukup ketat (dok.timlo.net/setyo pujis)
Solo – Perkembangan dunia fashion di era globalisasi sekarang ini membuat mode berpakaian terus bervariasi. Bahkan untuk sebagian orang, khususnya kalangan anak muda, tampil unik, trendy dan berbeda dari kebanyakan orang menjadi kebanggan tersendiri.
Hal inilah yang menjadi peluang pasar bagi pelaku bisnis distro (distribution outlet) untuk bisa meraup keuntungan, karena tingginya permintaan.
Store Manager Throox.org, Aan Andryanto saat ditemui Timlo.net, kemarin, mengatakan, tingginya animo konsumen terhadap produk-produk distro karena fashion bagi kalangan anak muda merupakan suatu kebutuhan. Disamping itu, kelebihan lain dari produk distro adalah tidak dibuat dalam jumlah massal layaknya mall ataupun toko pakaian pada umumnya.
“Sehingga mereka yang ingin tampil beda dan trendy biasanya lebih tertarik belanja di distro ketimbang di tempat lain,” ujarnya.
Dikatakan, meskipun persaingan distro di wilayah Solo cukup ketat, namun dirinya optimis produk miliknya bisa diterima pasar. Salah satuu paya yang dilakukan di antaranya adalah dengan selalu mengeluarkan desain baru yang lebih unik dan kreatif.
“Dengan model yang selalu baru serta pemasaran yang maksimal kita yakin bisa diterima pasar dengan baik. Melalui strategi itu animo konsumen saat ini cukup positif. Dan terbukti rata-rata perhari kita bisa menjual 50-60 potong pakaian,” ungkapnya.
Aan menjelaskan, outlet distro miliknya menawarkan segala kebutuhan fashion bagi anak muda. Mulai dari gelang, dompet, topi, tas, jaket, kaos dan kemeja. Harga yang ditawarkanya pun cukup kompetitif yaitu mulai dariRp 40 ribu hingga Rp 400 ribu.
Sementara itu, Supervisor Rown Division, Teddy Purba saat ditemui secara terpisah menuturkan, animo masyarakat, khusunya anak muda terhadap produk distro setiap tahun terus meningkat. Bahkan ia mengaku saat ini bisa menjual ratusan potong pakaian dalam sehari.
“Jika dalam kondisi normal sehari bisa menjual 100 potong. Namun saat momen tertentu seperti liburan dan Lebaran bisa mencapai 300-an potong pakaian perhari,” ungkapnya.
Untuk terus melakukan penetrasi pasar, dirinya mengaku selalu mencoba memperbarui produk, melalui desain baru yang dikeluarkannya setiap bulan. Sedangkan untuk promosinya sendiri, selain offline juga memaksimalkan media online melalui sosial media.
“Bahkan saat ini pangsa pasar kita tidak hanya dalam kota saja. Melainkan juga luar kota seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta hingga Kalimantan. Untuk mempermudah pengirimanya kita kerjasama dengan jasa ekpedisi,” tandasnya.
Dikatakan, meskipun gempuran produk fashion luar neger icukup gencar sekarang ini namun pihaknya optimis bisa bersaing dengan mereka. Pasalnya selain harganya lebih kompetitif, kualitas produk milliknya pun tidak jauh berbeda dengan produk brand ternama.
Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge