0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pria Ini Dibayar Rp 2,6 Miliar Setahun Untuk Bermain Lego

Cody Wells

Dok: Timlo.net/New York Post

Cody Wells

Timlo.net--”Bangun kembali masa kecil Anda,” itulah motto Cody Wells. Pria berusia 37 tahun itu tidak hanya membangun masa kecilnya kembali, tapi juga dibayar untuk melakukannya. Wells, warga Astoria, Oregon, Amerika Serikat (AS) itu dibayar $200.000 (Rp2,6 miliar) setahun atau Rp224 juta sebulan untuk menjadi desainer Lego profesional.

“Bagi beberapa orang, itu (lego) adalah mainan,” kata Wells. “Untuk saya, lego adalah sesuatu yang membuat saya merasa saya berada di tempat yang seharusnya. Saya tidak tahu apakah itu hal yang menyedihkan atau menguntungkan,” terangnya.

Rupanya, Wells bukanlah satu-satu desainer lego. Dia adalah salah satu dari dua belas pencinta Lego yang ditampilkan dalam film dokumenter “A Lego Brickumentary,” yang tayang di AS.

“Saat kami membuat film ini, saya pikir kami dipaksa untuk mempertanyakan apa definisi sebuah mainan dan apakah benda itu mainan atau alat atau sesuatu yang lain,” kata Daniel Junge, yang menjadi salah satu sutradara dalam film itu bersama dengan Kief Davidson.

Untuk Wells, lego adalah hidupnya. Pria yang pernah berhutang sebanyak Rp336 juta itu, sekarang bekerja sebagai seorang seniman, menciptakan museum yang dibangun dari Lego untuk para klien kaya.

Satu pasangan baru-baru ini memintanya mendesain potret mosaik raksasa dari Lego untuk acara Barmitzah putera mereka. Potret itu menggambarkan perubahan sang anak menjadi seorang pria.

Karya favorit Wells lainnya adalah sebuah gambar Lucille Ball dari Lego. Setiap karyanya dibuat sekitar seminggu.

Kecintaan Wells terhadap Lego bermula pada 1984 saat dia berusia 6 tahun. Seperti anak kecil lainnya, dia takut ada monster bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Sang ayah menyarankan untuk membuat “jebakan hantu” dari ember Lego warna merah miliknya. Cody melakukan saran sang ayah dan rasa takut terhadap monster itu hilang.

Satu-satunya hal yang menghantui dia adalah kecintaannya untuk membangun balok-balok Lego. Kecintaan ini diubahnya menjadi mata pencaharian pada 2010, saat dia pindah ke New York. Sebelumnya, dia bekerja di industri layanan makanan dan mobil.

“Saat saya memulai perusahaan saya (C3Brix), saya tinggal di apartemen dengan empat kamar tidur bersama dengan tiga teman,” katanya.

“Saya punya Lego di bawah tempat tidur, di lemari pakaian. Saya tidak bisa mengingat berapa kali tunangan saya menelepon di tempat kerja dan menanyakan jika kamar tidurnya bisa ditiduri,” terang Wells.

Saat tidak membuang patung atau lukisan dari balok-balok itu, dia mengajari anak-anak bermain Lego. “Para orang tua menelepon dan berkata, ‘Anakku tidak suka olahraga,’ ‘Anakku tidak suka musik rock.’” katanya. Jadi mereka mengunjungi dia di Little Shop of Crafts di Upper West Side, di mana dia membangun rumah Lego. Dia mengajarkan berbagai workshop tematik setiap bulan, membuka kelas privat dan bahkan menggelar pesta ulang tahun Lego untuk anak-anak muda yang kreatif.

“Saya memberikan mereka harapan,” katanya. “Saya tidak di sini untuk anak-anak populer,” tambahnya.

Sumber: New York Post.

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge