0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pande Besi Selogiri Banyak Melayani Petani

dok.timlo.net/tarmuji
Wawan saat bekerja di lapak di pinggiran Selogiri (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Keahlian satu ini jarang dimiliki setiap orang. Ya, pande besi, walau status sosialnya saat ini terbilang rendah ketimbang di masa dimana jaman-jaman kerajaan yakni empu, namun pekerjaan ini sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat.

“Saya membuka lapak setiap pasaran Wage dan Legi di Desa Nambangan, Selogiri saja,” ungkap pande besi asal Nguter, Sukoharjo, Wawan (29), Senin (27/7).

Dibantu dua rekannya, Maryadi (28) dan Minto (63), Wawan meladeni warga pinggiran Wonogiri. Besi-besi ia tempa sesuai selera pemesan. Profesi ini ia warisi dari mbah buyutnya. Ia merupakan generasi ke empat. Diakui, keahlian ini dimiliki tanpa belajar atau kursus.

“Biasanya alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit, pisau, parang, kapak dan sebangsanya,” jelasnya.

Dikatakan, dirinya menekuni dan melayani warga Selogiri sejak lima tahun silam bersama kedua rekannya.

“Saat musim kemarau seperti ini sepi. Berbeda jika saat musim penghujan, pesanan silih berganti, kan banyak petani mulai menggarap sawah,” katanya.

Ditambahkan, kebanyakan order yang datang, mulai dari mempertajam alat-alat pertanian hingga membuat alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit dan sebagainya.

“Kalau hanya mopok, sepuh (servis —Red) saya patok harga Rp 10 ribu, kalau bikin baru mulai dari Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge