0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Modal Pas-pasan, Nekat ke Jakarta Buat Adu Nasib

dok.merdeka.com

ilustrasi

Timlo.net – Naryo (26), warga Ngawi, Jawa Timur, nekat datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan layak. Berbekal nekat, dia ke Jakarta menggunakan kereta api dan turun di Stasiun Pasar Senen.

Dia menceritakan, dua bulan lalu mendapat kabar ada lowongan pekerjaan dari bos tempat saudaranya bekerja. Namun sesampainya di Jakarta, lowongan tersebut habis. Akhirnya dia bergegas mencari pekerjaan lain.

“Lulus SMA saya nganggur, ada saudara bilang ada kerjaan, terus saya ke Jakarta. Tapi sampai situ ternyata belum ada kerjaan. Akhirnya mau enggak mau daripada di Jakarta enggak makan saya maulah jadi OB di Serpong dulu nunggu nanti ada lowongan dari saudara,” kata Naryo di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (25/7).

Sebelum ke Jakarta, Naryo mengaku sempat bingung mencari kerja karena lapangan kerja di daerahnya minim. Di sisi lain dia takut membebani kondisi perekonomian orangtuanya.

“Mau enggak mau daripada nganggur enggak punya uang, ngerepotin orangtua di rumah. Kampung kan kerjaan susah. Mau kerja apa ikut yang penting ngasilin duit. UMR di sini sama di kampung beda jauh,” tuturnya.

Dia bercita-cita ingin seperti orang-orang dekat di kampungnya yang berhasil bekerja di perantauan. Naryo ingin seperti mereka yang ketika pulang kampung kondisi perekonomiannya nampak semakin meningkat.

Hal itu yang membuat tekadnya bulat untuk merantau di Jakarta, walaupun tak punya keahlian dan pengalaman.

“Banyak sih yang dari Jakarta pulang ke desa bawa duit, pengen lah. Pengalaman sih belum ada, SMA soalnya,” ucapnya.

Hal tersebut berbeda dengan pandangan seorang warga dari Cirebon, Rozzy harianto (31). Dia ke Jakarta hanya sepekan untuk mengunjungi sanak saudaranya dalam momentum Lebaran. Meski lowongan dan gaji tinggi ditawarkan ibu kota, namun Rozzy tetap tak tertarik bekerja di Jakarta.

“Jakarta lebih banyak lapangan kerja. Cuma enggak demen tinggal di Jakarta, terlalu banyak orang. Ribet macet. Semrawut Jakarta. Gaji gede tapi biaya hidup lebih tinggi,” tegasnya.

Rozzy menyatakan dirinya tak siap mengadu nasib di Jakarta. Dia menilai Jakarta bukan tempat bagi orang-orang yang tak punya keahlian sama sekali. Sebab jika semua orang semakin tertarik untuk tinggal di Jakarta, maka dikawatirkan pemerintah daerah akan semakin sulit mengurusnya.

“Yang dimaksud keahlian itu keahlian apa dulu. Yang pantes bisa kerja lah ke Jakarta, kalau cuma nyumpek-nyumpekin Jakarta buat apa. Mending balik lagi kalau tujuannya enggak bener,” pungkasnya.

[efd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge