0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bupati Klaten Memimpikan Candi Prambanan Bisa Dilihat dari Rowo Jombor

timlo.net/aditya wijaya

Kirab 11 gunungan ketupat dalam perayaan grebeg syawalan di Bukit Sidoguro, Bayat, Klaten

Klaten — Puncak perayaan tradisi Grebeg Syawalan di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kamis (23/7), tanpa dihadiri Bupati Klaten, Sunarno. Sesuai jadwal dan menilik dari tahun-tahun sebelumnya, Sunarna tak pernah melewatkan syawalan yang digelar sepekan setelah lebaran ini.

“Mohon maaf pak bupati berhalangan hadir. Beliau ada tugas yang tidak dapat ditinggalkan,” tutur Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Sektretariat Daerah (Setda) Klaten, Purwanto Anggono Cipto, Kamis (23/7).

Dalam sambutannya mewakili Bupati Klaten, Purwanto mengatakan, Grebeg Syawalan merupakan tradisi yang tak lekang oleh jaman. Dengan menyuguhkan ribuan ketupat berbentuk gunungan, semua orang tanpa sekat bisa datang dan menikmatinya.

“Secara filosofis Jawa, kupat kepanjangan dari ngaku lepat yang artinya mengakui kesalahan. Sedangkan janur kuning yang membungkusnya mempunyai makna sejatining nur atau cahaya yang sejati. Bungkus ketupat itu juga memiliki simbol tolak bala,” katanya.

Selain mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, ditambahkannya, Bupati Klaten juga berangan-angan mengangkat sosial ekonomi masyarakat sekitar Rowo Jombor.

“Entah dibikin menara atau apa, pak Bupati sedang memikirkan bagaimana caranya Candi Prambanan bisa dilihat dari sini (Bukit Sidoguro – Red). Semoga rencana itu disetujui pada anggaran (APBD) 2016,” imbuhnya.

Selain minus Sunarno, dari pantauan Timlo.net, Wakil Bupati Klaten, Sri Hartini juga tidak hadir. Keduanya sejak hari pertama paska libur Lebaran dan cuti bersama, Rabu (22/7) kemarin, dikabarkan tengah “dinas luar.”

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge