0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Grebeg Syawal, Antara Budaya dan Syiar Agama

foto: Heru

Grebeg Syawal

Solo – Dua buah gunungan raksasa, ludes tak bersisa setelah diperebutkan ratusan warga dalam acara Grebeg Syawal yang diadakan Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (19/7). Sebelumnya, dua buah gunungan, yakni jaler dan estri ini diarak untuk didoakan di Masjid Agung Surakarta.

Suasana riuh di halaman Kori Kamendungan Keraton Surakarta. Tampak ratusan warga memadati areal tempat pelaksanaan Grebeg Syawal.

Dua buah gunungan terlihat dikeluarkan oleh Abdi Dalem. Dengan dikawal oleh Bregada tamtama prajurit keraton, prajurit prawira anom, prajurit sorogeni, pasukan doropati, kedua gunungan itu di arak menuju Masjid Agung untuk didoakan.

Usai didoakan, Gunungan Jaler yang berisi hasil bumi berupa sayur-sayuran dan lauk-pauk, seperti kacang panjang, terong, tebu, telur, cabai merah, wortel, dan jeruk langsung di rayah oleh warga yang hadir. Sedang Gunungan Estri yang berisi intip, rengginang dengan dilengkapi bendera merah putih, kembali diarak menuju Puri Kamandungan.

Selama perjalanan Gunungan tersebut, tampak para abdi dalem membuat pagar betis untuk menghindari gunungan direbut warga. Sesampainya di halaman Keraton, warga yang telah menunggu cukup lama langsung merebut gunungan Estri tersebut.

“Gerebeg Syawal ini adalah ungkapan rasa syukur bagi kemenangan bagi umat Islam usai menjalankan ibadah puasa selama 30 hari. Ucap sukur kita wujudkan dengan dua gunungan ini,” kata Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Solo, Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusumo.

Dia menjelaskan kegiatan yang sudah dilakukan secara turun temurun ini selain untuk syiar agama Islam, juga sebagai bentuk budaya yang peninggalan kejayaan Islam masa lalu.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge