0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Krisis Air di Wonosegoro Meluas

foto: Nanin

Memasuki musim kemarau,sumur warga di 11 desa di Kecamatan Wonosegoro mulai menyusut debitnya.

Boyolali –¬†Sebanyak 11 desa di Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, sudah mulai mengalami krisis air bersih. Air sumur milik warga sudah mengalami penyusutan drastis. Selain itu juga berubah keruh dan penuh endapan lumpur.

“Keruh dan berlumpur, kalau mau dipakai yang harus diendapkan semalam,” ungkap Hartini, warga Karangjati, Wonosegoro, Sabtu (11/7).

Untuk keperluan minum, warga membeli air mineral dalam gallon. Satu galon dibeli Rp 16 Ribu dan digunakan selama satu minggu. Sedangkan air sumur yang keruh, hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.

“Tidak tega kalau harus minum air sumur, ya terpaksa beli,” ujarnya.

Camat Wonosegoro, Edi Kriatiawan mengaku, krisis air di wilayahnya sudah bertambah. Dulu, hanya 10 desa sekarang bertambah menjadi 11 desa. Kemungkinan desa yang alami krisis air bertambah bila kemarau panjang terjadi.

“Kita antisipasi dengan pengajuan bantuan air bersih ke pemkab,” imbuhnya.

Namun hingga kini, belum ada desa yang mengajukan bantuan air bersih. Sementara itu, sebelas desa yang mengalami krisis air bersih, yakni Desa Karangjati, Desa Garangan, Repaking, Gunungsari, Bercak, serta sebagian warga Kalinanas.

“Tidak hanya sumur, sungai yang ada airnya juga sudah menyusut banyak, bahkan sudah ada yang menjadi daratan,” ungkapnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge