0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sutan Bhatoegana Marah Ditanya Soal ‘Wanita Lain’

dok.merdeka.com

Sutan Bhatoegana

Timlo.net – Terdakwa kasus gratifikasi di Kementerian ESDM dan Kepala SKK Migas, Sutan Bhatoegana, naik pitam saat ditanya jaksa soal aliran dana dari terdakwa kepada seorang perempuan bernama Wirda Safriani Lubis.

Pada salah satu bagian tanya jawab saat sidang yang digelar Kamis (9/7), Jaksa Yandy mengonfirmasi Sutan perihal aliran dana terhadap Wirda.

Bukannya menjawab, Sutan malah meminta jaksa bertanya soal lain.

“Apa saudara kenal Wirda Safriani Lubis?” tanya jaksa KPK Yadyn.

“Saya kenal,” jawab Sutan. “Siapa ini?” lanjut jaksa Yadyn.

“Yang ini saya tidak mau jawab. Tidak ada urusannya, tidak mau saya, yang aneh-aneh ditanya, tidak mau saya. Gak ada urusannya, gak mau saya jawab,” cerocos Sutan.

“Ada persoalan rumah di sini. Saudara terdakwa nikah siri dengan yang bersangkutan sampai dengan saat ini?” tanya jaksa.

“Saya tidak mau jawab yang itu. Enggak ada urusan,” jawab Sutan dengan nada terdengar mulai kesal.

“Tanya soal rumah, jangan soal personal,” sergah pengacara Sutan, Eggi Sudjana.

“Wirda Safriani Lubis tinggal di Condet, bagaimana perolehan rumah yang diperoleh Wirda?” tanya Yadyn.

“Dia beli setengah, saya setengah,” jawab Sutan.

“Hubungan apa saudara dengan dia sampai memberikan setengah?” tanya Yadyn.

“Saya tidak mau jawab, tidak ada urusannya. Enggak mau saya jawab ini,” sahut Sutan semakin kesal.

“Berapa nilai pembelian terdakwa setengah-setengah itu?” cecar jaksa Yadyn lagi.

“Jangan kejujuran saya, kalian. Saya jujur. Sebenarnya saya tidak mau jawab itu, tidak mau saya,” jawab Sutan dengan nada makin meninggi.

“Saudara harus buktikan semua harta terdakwa tidak diperoleh dari uang yang katanya di dakwaan,” kata ketua majelis hakim Artha Theresia berupaya menengahi.

“Apakah jumlahnya 400 (juta) atau 300 (juta)?” tanya jaksa.

“300 (Juta), itu uang saya dari tabungan. Tabungan saya ada dolar,” jelas Sutan.

Selain rumah yang dibeli pada 2007 itu, Sutan juga membelikan Wirda mobil Honda CR-V. “Ada CR-V, harganya sekitar 300 (juta) tahun 2009,” jawab Sutan.

Dalam sidang ini juga, Sutan Bhatoegana mengakui kalau dirinya pernah dititipkan duit sebesar USD 10 ribu dari koleganya di DPR. Namun, Sutan mengaku uang itu dikembalikan melalui Saptono, staf pribadinya.

“Tono itu, itu saya bilang itu saya buka sebenarnya untuk penyidik supaya penyidik jangan kacamata kuda dengan saya. Ketika staf saya datang saya marah, saya kan marah, baca dong di situ (BAP). Sutan marah besar, saya marah besar saya kembalikan,” ujar Sutan.

Pernyataan itu disampaikan Sutan, saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengonfirmasi isi berita acara pemeriksaan (BAP) Sutan saat diperiksa penyidik KPK. Sutan menyebut staf pribadinya itu sudah meninggal dunia. Bahkan Sutan mengingatkan JPU KPK untuk tidak melibatkan Saptono.

“Dia sudah almarhum. Masak orang mati dibilang hidup, gimana sih,” ujar Sutan.

Sutan membantah kalau dirinya mengetahui asal duit tersebut. Dia mengklaim hanya memerintahkan Saptono agar mengembalikan duit yang dititipkan itu.

“Saya suruh kembalikan, saya juga datang ke pimpinan (Komisi VII) apa-apaan ini, enggak mau saya,” sebut Sutan.

“Saya minta Tono kembalikan ke orangnya, ke pimpinanlah, kan disuruh bagi-bagikan sama mereka,” kilahnya.

Sutan kembali berkilah saat dikonfirmasi kembali jawabannya dalam BAP nomor 33 pada Senin 6 Oktober 2014 oleh JPU KPK. Di mana dalam isi BAP, Sutan menyatakan pernah menerima uang dari Politikus Demokrat Tri Yulianto atau Asfiani sebesar USD 200 ribu.

Saat itu Sutan menanyakan kepada Politikus Golkar Zainudin Amali terkait uang tersebut. Namun, Zainudin memerintahkan Sutan untuk membagikan uang itu kepada anggota Komisi VII DPR lain.

“Saya baca tapi waktu itu setelah saya pulang baru saya ingat tidak pernah saya terima-terima itu. Makanya saya ubah, kan ada perubahannya,” pungkas Sutan.

Dalam kasus ini, Sutan didakwa menerima uang dari Sekjen Kementerian ESDM Waryono Karno senilai 140 ribu dolar AS dalam pembahasan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2013 Kementerian ESDM.

Ia juga didakwa menerima hadiah-hadiah lain yaitu menerima 1 unit mobil Toyota Alphard, uang tunai sejumlah Rp 50 juta dari Menteri ESDM 2011-2014 Jero Wacik, uang tunai sejumlah 200 ribu dolar AS dari Kepala SKK Migas Januari-Agustus 2013 Rudi Rubiandini, mendapatkan rumah sebagai posko pemenangan dari pengusaha Saleh Abdul Malik.

[bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge