0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Pilot Indonesia Bergabung ISIS?

dok.merdeka.com

Pilot Indonesia yang bergabung dengan ISIS

Timlo.net – Dua pilot asal Indonesia diduga menjadi anggota organisasi radikal ISIS. Otoritas Keamanan Australia melansir dua nama pilot tersebut, yakni Ridwan Agustin serta Tommy Abu Alfatih.

Ridwan diketahui pernah bergabung dengan AirAsia. Sedangkan Tommy Abu Alfatih di Premiair. Nama mereka diedarkan ke dinas intelijen Turki, Inggris, Amerika Serikat, serta Europol agar diawasi lebih lanjut.

Dokumen intelijen bertajuk “Identifikasi pilot Indonesia dengan ketertarikan pada ekstremisme” itu tertanggal 18 Maret 2015. Keduanya disebut-sebut bersimpati pada gerakan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).

Seperti dikutip dari situs resmi majalah the Intercept, Kamis (9/7), pilot berpaham radikal akan sangat berbahaya karena punya kemampuan lebih menggelar serangan teror. Data Intelijen Australia ini mengingatkan bahaya al-Qaidah yang pada 2001 bisa menggelar serangan bunuh diri ke Gedung WTC di New York.

“Nama-nama ini kemungkinan terpengaruh unsur radikal, setidaknya terlihat dari dunia maya dan sebagai hasilnya (dua pilot itu) dapat menimbulkan ancaman keamanan,” tulis laporan tersebut.

Ridwan dan Tommy punya pengalaman terbang untuk rute domestik dan internasional. Mereka diketahui pernah terbang hingga Hong Kong, Australia, hingga Eropa.

Untuk kasus Ridwan, AirAsia menyatakan pilot senior itu sudah tidak lagi bekerja pada mereka. Ada selentingan Ridwan dan istrinya, Diah Suci Wulandari yang juga bekerja di AirAsia sebagai pramugari, telah pindah ke Kota Raqqa, Suriah.

“Kami tidak bisa berkomentar lebih jauh,” kata jubir AirAsia kepada intercept.

Ridwan diketahui lebih dulu bersimpati pada ISIS pada 2014. Selanjutnya, Tommy, diketahui sebagai kenalan dari Ridwan, ikut membagikan materi-materi teror khilafah di jejaring sosial.

Belakangan, Premiair mengatakan Tommy ikut keluar dari pekerjaan.

“Dia tidak lagi menjadi karyawan per 1 Juni 2015.”

Polisi Federal Australia (AFP), yang disebut pembocor dokumen tersebut, tidak bersedia mengomentari validitas informasi tersebut.

[ard]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge