0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tradisi Malem Selikuran Masih Lestari di Wonogiri

timlo.net/Tarmuji

Malem Selikuran di Kecamatan Baturetno

Wonogiri — Menjelang matahari terbenam, suara kentongan ditabuh bertalu-talu. Tak berapa lama, riuh warga berjalan menuju rumah kepala dusun (Kadus) dengan menenteng baki terbungkus kain. Bukannya arisan atau rapat bulanan, tetapi mereka menjalankan tradisi turun temurun, yakni tradisi maleman.

Khususnya warga masyarakat Jawa muslim masih menjalankan adat istiadat, yakni kendurinan sebelum menjelang berbuka puasa di rumah sesepuh dusun atau kepala dusun (Kadus). Konon, tradisi ini merupakan warisan Sunan Kalijaga.

Satu ekor ayam ingkung dan nasi uduk tersaji, tertata rapi di atas besek atau baki. Ritual ini sebagai rasa wujud puji syukur terhadap Tuhan atas apa yang telah dilimpahkan. Terlebih saat umat muslim menjalankan ibadah puasa sampai pada hari ke-21 tanpa ada halangan.

Tak hanya para orang tua saja yang mengikuti acara tahunan ini. Anak-anak kecil turut serta, berharap mendapatkan secuil daging ayam kam g yang dibagikan panitia.

Biasanya, acara kendurinan maleman ini dilakukan setiap menjelang buka puasa. Dengan didoakan sesepuh dusun dan didahului sambutan kadus, acara maleman dimulai. Satu persatu bungkusan yang berisi ayam ingkung dan nasi uduk dibuka.

Panitia mengambil satu persatu paha ayam ingkung, kemudian dikumpulkan menjadi satu. Puluhan mata bocah-bocah kecil melirik lezatnya daging ayam kam g. Setelah terkumpul, mereka mendapatkan satu paha ayam, lalu sisanya diberikan kepada fakir miskin dan janda-janda tua.

Adzan Magrib sayup-sayup terdengar, acara ini lantas diakhiri. Warga pulang untuk berbuka puasa. Selain nguri-nguri (melestarikan-Red) budaya jawa, sekaligus sebagai ajang silaturohmi antar warga.

Sekitar tahun 1999 berbarengan dengan krisis moneter, tradisi ini terkena imbasnya. Perangkat desa setempat memerintahkan agar ayam ingkung diganti dengan telur ayam rebus. Mengingat sulitnya mencari nafkah terlebih jika hanya digunakan untuk sebuah kendurinan. Namun, tak berselang lama, tradisi itu pulih kembali.

Di Baturetno, tidak hanya maleman saja, tetapi juga dilakukan disaat peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad yang biasa disebut dengan tradisi Muludan.

Bertepatan dengan malam Lailatul Qodar, dimana umat muslim menjalankan ibadah puasa menginjak pada hari ke 21,  tradisi ini disebut maleman atau malem selikuran (malam ke-21- Red).

“Kami terus akan melestarikan tradisi ini. Memang ada sebagian warga yang berpendapat kalau tradisi ini tidak sesuai ajaran islam. Tapi bagi kami ini adalah budaya jawa, budaya adi lihung yang perlu dijaga keberadaannya,” ujar Kepala Dusun (Kadus) Temon Sambodo, Selasa (7/7).

Menurut dia, tradisi khas ini, sebagian hampir luntur termakan jaman, namun di beberapa kecamatan masih tetap terjaga eksistensinya. Seperti di Kecamatan Baturetno. Bertepatan dengan malam Lailatul Qodar.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge