0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pria Dengan Testoteron Rendah Beresiko Terkena Depresi

(Ilustrasi) Sperma (Dok: Timlo.net/ Google Images)

Timlo.net—Menurut sebuah penelitian baru, pria dengan tingkat testoteron rendah cenderung terkena depresi. Pria yang bermasalah dengan tingkat hormon mereka memiliki kecenderungan lebih tinggi terkenal penyakit mental.

Normalnya tingkat testoteron pria berada pada puncaknya di usia 20 tahun dan pelan-pelan menurun. Turunnya jumlah testoteron pada pria bisa menyebabkan depresi, kehilangan dorongan seksual, disfungsi ereksi, keringat berlebih, dan mudah marah.

Kondisi ini juga bisa menyebabkan perubahan mood, penurunan massa otot dan pendistribusian ulang lemak, yang menyebabkan pria memiliki perut besar atau dada besar.

“Dalam era di mana lebih banyak pria diuji untuk tingkat testoteron yang rendah, hanya ada sedikit data tentang masalah ini,” kata Dr. Michael Irwig, dari George Washington University.

Dia berkata: “Kami merasa adalah satu hal yang penting untuk menjelajahi kesehatan mental dari populasi ini.”

Penelitian ini melibatkan 200 pria dewasa, berusia 20-77 tahun, yang memiliki tingkat testoteron antara 200 hingga 350 nanogram per deciliter (ng/dL).

Jumlah testoteron pada pria normal berjumlah antara 300 hingga 1.200 ng/dL. Para peneliti juga memiliki data tentang demografis, rekam medis, penggunaan obat, gejala dan tanda-tanda dari sekresi testoteron yang berkurang pada para pria ini.

Mereka juga melakukan pengujian terhadap gejala-gejala depresi atau penggunaan obat anti depresi. Para peneliti menemukan 56 persen pria dalam penelitian ini memiliki gejala depresi atau terkena depresi.

Lebih jauh, seperempat pria dalam penelitian ini mengambil antidepresan dan mereka memiliki obesitas dalam tingkat tinggi dan aktivitas fisik dalam tingkat rendah. Ciri-ciri paling umum dari tingkat testoteron rendah adalah disfungsi ereksi, penurunan libido, ereksi pagi hari yang lebih sedikit, energi rendah dan gangguan tidur.

Penelitian ini diterbitkan secara online di Journal of Sexual Medicine.

Sumber: Daily Mail.

 

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge