0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Versi Pengamat, Saat Ini Masih Lebih Baik Daripada Krisis 1998

ilustrasi rupiah ()

Timlo.net – Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2015 cuma 4,7 persen. Ini membuat Bank Indonesia pada pertengahan kuartal II-215 memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 menjadi 5,1 persen.

Meski demikian, Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Kadek Dian Sutisna mengatakan kondisi Indonesia masih baik jauh lebih baik dibanding saat krisis moneter 1998 silam. Meski nilai tukar Rupiah saat ini masih tinggi, menurutnya sektor perbankan masih sangat kuat meredam gejolak krisis saat ini.

Dia menegaskan, kondisi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Di mana pada saat krisis tersebut, sektor perbankan tidak sehat dan gejolak nilai tukar sangat tinggi sehingga terjadilah krisis moneter 1998.

“Saat ini, kondisi perbankan kita cukup bagus. Kondisi ini yang bikin kita kuat dari krisis, jadi tidak akan terulang lagi,” ujar dia, Sabtu (4/7).

Saat ini sektor riil memang terkena dampak akibat pelemahan Rupiah yang cukup dalam.

“Sekarang kan porsi utang PDB kan kita rendah, dari sisi pemerintah utangnya terjaga dan dari sisi perbankan sehat. Kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi saat 1988 lalu,” jelas dia.

Namun demikian, dia mengakui ekonomi Indonesia saat ini mengalami pelemahan. Ini disebabkan faktor eksternal yaitu perbaikan ekonomi Amerika Serikat.

Untuk itu, pemerintah harus mendorong peningkatan ekonomi dalam negeri seperti peningkatan pajak, dorong konsumsi, menjaga perbankan agar tetap stabil dan menjaga inflasi.

“Itu hal-hal yang harus dilakukan pemerintah saat ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Ekonom dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Edy Suandi Hamid meminta pemerintah untuk tidak hanya diam melihat pelemahan nilai tukar Rupiah.

“Pencermatan atas keberlanjutan kemerosotan itu harus dilakukan secara serius,” katanya.

Menurut dia, pencermatan itu bukan hanya oleh Bank Indonesia (BI), tetapi juga pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan para pelaku ekonomi yang langkah-langkahnya bisa mempengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah. Edy menyebut, pelemahan Rupiah saat ini mirip dengan krisis moneter (krismon) 1998 yang melanda Indonesia.

“Pengalaman kemerosotan ekonomi yang parah terjadi pada 1998 juga diawali oleh kemerosotan nilai tukar Rupiah, yang menjelang pertengahan 1998 sempat menyentuh Rp 17.000 per USD,” kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) itu.

[idr]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge