0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Saddam Husain, Penyerang Persis Solo Asal Sumbawa

Sepatu Bolanya Pernah Dibakar Sang Ayah

timlo.net/aryo yusri atmojo

Saddam Husain

Solo — Publik pecinta klub sepak bola Persis Solo saat ini mulai menaruh perhatian pada pemain asal Sumbawa, Saddam Husain. Pesepakbola yang berposisi sebagai penyerang ini kini menjelma menjadi idola baru para fans Laskar Sambernyawa.

Adalah empat gol alias topskor sementara Persis Solo bersama rekannya setim, Ferryanto di ajang Piala Polda Jateng hingga memasuki partai final. Saddam yang dibekali kecepatan berlari di atas rata-rata membuatnya menjadi salah satu kunci permainan Persis Solo.

Namun tak banyak orang yang tahu dengan kehidupan masa kecil Saddam hingga berkecimpung di dunia sepak bola saat ini. Yakni almarhum ayahnya yang sama sekali tak menginginkan Saddam menjadi pemain sepak bola. Ayahnya semasa hidup tidak menyukai sepak bola dan tak ingin anaknya berkutat dengan sepak bola.

Namun, Saddam memang sudah terlanjur menggandrungi olahraga terpopuler sejagat itu sejak masih SD. Dirinya secara diam-diam bermain sepak bola dengan teman-teman di sekolahnya, tanpa sepengetahuan ayahnya. Sepasang sepatu bola dibelinya berasal dari menyisihkan uang sakunya setiap hari.

Lama-kelamaan, ayahnya mengetahui Saddam nekat bermain sepak bola. Puncaknya adalah ketika sepatu bola kesayangannya dibakar oleh ayahnya pada saat Saddam pulang sekolah dan melihatnya langsung. Sontak perasaannya sedih berkecamuk bahkan dirinya menangis waktu itu.

“Saya masih ingat sepatu itu dibakar bapak karena tidak suka melihat saya bemain sepak bola. Padahal sepatu itu saya beli dari uang saku yang sebagian disisihkan. Jujur saya menangis waktu itu, sedih sekali rasanya,” kata pengagum bintang sepak bola Real Madrid, Christiano Ronaldo ini.

Saddam tak patah arang walaupun sepatunya harus dibakar dan ayahnya tetap tak merestui menjadi pemain sepak bola. Namun kepedihan Saddam kembali berlanjut saat ayahnya menghadap sang pencipta karena sakit, dan belum sempat melihatnya menjadi pemain bola terkenal.

Bahkan beberapa waktu setelah ayahnya meninggal, Saddam berhasil mengantarkan sekolahnya menjuarai sepak bola tingkat Porseni di kampung halamannya Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

“Sedih ketika bapak sudah tiada saat saya bisa berprestasi. Pasti bapak akan senang kalau melihatnya waktu itu,” lanjut Saddam yang punya nama lahir, Muhammad Mustajab ini.

Meski sudah ditinggal sang ayah, prestasi di dunia sepak bola Saddam mulai menanjak dari tahun ke tahun. Dirinya bahkan masuk anggota tim PS Sumbawa di kasta Divisi Utama Indonesia, sebagai klub sepak bola profesional pertamanya.

Namanya semakin berkibar seantero Negeri ketika menjadi top skor alias pencetak gol terbanyak kedua di kompetisi Divisi Utama (DU) musim 2011-2012 dengan menorehkan 17. Saddam hanya kalah satu gol dari Sackie Teah Doe, gelandang Barito Putra, yang kemudian menjadi top skor DU. Selain itu, Saddam juga membawa Sumbawa Barat ke 8 Besar Nasional. Sebuah prestasi mengkilat bagi tim sekelas PS Sumbawa.

Atas prestasinya, pelatih timnas Indonesia versi Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) ketika itu yakni Alfred Riedl memanggilnya untuk mengikuti seleksi menghadapi Piala AFF 2012. Riedl sendiri melihat kemampuan Saddam dengan pandangan langsung. Saddam berkesempatan bersaing dengan pemain sekelas Boaz Solossa, Greg Nwokollo, Christian Gonzales, ataupun Ferdinand Sinaga.

Sayang, konflik dualisme sepak bola Indonesia kala itu membuyarkannya berseragam Merah Putih. Karena Timnas Indonesia dibawah kendali PSSI yang dilatih Nil Maizar-lah yang akhirnya turun saat Piala AFF 2012. Saddam pun dipulangkan dan kembali bermain dengan klub di kampung halamannya, PS Sumbawa.

“Sungguh saya merasa sedih dan kecewa. Siapa yang menyangka bisa berseragam Merah Putih. Apalagi, saat itu saya hanya bermain di sebuah klub kecil,” kenang Saddam.

Kariernya nyaris terbang tinggi, karena beberapa klub ISL mengincarnya. Tak sedikit tim-tim ISL mengejarnya untuk bergabung. Namun lantaran dirinya masih terikat kontrak dengan PS Sumbawa, membuatnya menutup pintu bagi klub lain.

Perlahan namanya mulai meredup ketika cedera parah menghantamnya. Cedera itu memaksa Saddam beristirahat selama satu tahun. Namanya hilang dari peredaran, sekaligus membuyarkan impian bermain di klub mentereng Indonesia.

Pasca cedera, Saddam mulai bermain secara reguler. Dirinya langsung diikat kontrak oleh tim promosi Divisi Utama asal Jawa Timur, Persatu Tuban. Namun kembali, dunia persepakbolaan Indonesia berkecamuk dan membuat kompetisi mati total ketika Menpora dan PSSI kisruh.

Pemain yang masih berusia 24 tahun ini pun melanjutkan petualangan di Kota Solo dengan berseragam Persis Solo bulan April lalu. Di Kota inilah namanya mulai kembali melejit. Meskipun dikontrak sementara untuk ajang Piala Polda Jateng. Saddam mulai menemukan kembali permainannya di klub barunya ini. Namun dirinya mengaku belum bisa memutuskan masa depannya dengan bertahan di Solo atau hengkang.

Persatu Tuban mulai memanggilnya kembali untuk bergabung. Persatu sedang mempersiapkan tim di ajang Piala Kemerdekaan bentukan Tim Transisi. Hal ini membuatnya masih belum dapat memutuskan masa depannya. Praktis Persis Solo pun wajib ancang-ancang memagarinya apabila tak ingin kehilangan.

“Persis Solo ini tim bagus, sebagian besar pemain muda yang punya kecepatan. Bertahan di Solo? Saya belum bisa memutuskan. Saya memang sudah dihubungi Persatu, tapi baru sebatas menawarkan diri, jadi belum saya putuskan,” tandas pemain yang mengidolakan klub Real Madrid ini.

 

Data Diri

Nama Lengkap                      : Saddam Husain

Tempat, Tanggal Lahir         : Goa, Jereweh, Sumbawa Barat, 30 Maret 1991

Tinggi                                       : 172 cm

Berat                                         : 65 Kg

Ayah                                         : M. Dam (alm)

Ibu                                            : Fatmawati

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge