0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Anak Berbahasa Gado-Gado Tak Perlu Dikhawatirkan

Dr Endang Fauziati, pakar bahasa UMS (dok.timlo.net/tyo eka)

Sukoharjo  — Banyak orang tua sering mengkhawatirkan anak-anaknya menggunakan bahasa gado-gado atau berbahasa campuran dari beberapa bahasa. Padahal, hampir semua penduduk Indonesia menggunakan dwibahasa bahkan multi bahasa.

“Sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan,” ujar pakar bahasa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Endang Fauziati saat berbicara tentang Kekawatiran Bahasa Gado-Gado, di Kampus UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (3/7).

Endang mengemukakan, penggunaan bahasa gado-gado pada anak usia dini merupakan proses alami bagi anak yang tumbuh di lingkungan dwibahasawan atau multibahasawan seperti di Indonesia. Bahasa gado-gado di usia dini bukan berarti anak-anak tidak mampu membedakan antara bahasa satu dengan bahasa lainnya.

“Para linguis memberikan istilah pencampuran bahasa (language mixing),” ungkapnya.

Menurut pakar bahasa itu, bahasa gado-gado anak usia dini pada dasarnya melewati tiga fase dalam perkembangan pemerolehan bahasa mereka. Masing-masing fase memiliki karakteristik tertentu dan garis antar fase tidak jelas.

Endang mengemukakan, anak bilingual memiliki satu sistem leksikal yang mewakili kedua bahasa yang mereka peroleh. Kosa kata dari satu bahasa belum memiliki padanan di bahasa yang lain. Mereka tidak membedakan makna dari pasangan-pasangan kata dari bahasa yang berbeda namun memiliki arti yang sama. Mereka sering menggunakan pasangan kata tersebut seolah-olah mereka memiliki arti yang berbeda.

“Mereka juga sering mencampurkan kosa kata dari dua bahasa yang berbeda ke dalam satu kata untuk satu makna tertentu,” jelasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge