0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

M Nasir, Dari Guru Agama Hingga Manager Hotel

()

Solo — Sempat menjadi guru agama namun kemudian jatuh cinta pada dunia hotel. Itulah Muhammad Nasir Mattusin, General Manager Aston Hotel Solo. Kecintaan Nasir pada dunia perhotelan ia buktikan dengan pengabdiannya selama kurang lebih 35 tahun, sampai saat ini.

Besar di Palembang dengan kultur agama yang kuat, Nasir muda bersekolah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Patah, Palembang (sekarang bernama Universitas Islam Negeri Raden Patah). Berbekal pendidikan agama itu, lulusan jurusan Syariah di tahun 1979, Nasir kemudian menjadi guru aga­ma kurang lebih satu tahun.

Penasaran dengan pekerjaan lain, sambil tetap mengajar, Nasir mencoba melamar pekerjaan untuk tiga posisi sebagai penyiar di TVRI, RRI dan karyawan sebuah hotel.

“Boleh dikatakan nggak sengaja (masuk dunia hotel —Red). Waktu itu saya semuanya sudah dipanggil. Tapi saya pilih hotel. Teman-teman saya tanya, kenapa pilih hotel, kan hotel kerjaannya tidak tetap. Waktu itu saya bilang, saya suka aja. Itu sekitar tahun 1980,” kisah Nasir kepada Timlo.net, baru-baru ini.

Yakin dengan pilihannya, Nasir me­mulai karirnya dari bawah sebagai ope­rator telepon di sebuah hotel di Palembang. Segala posisi di perhotelan mulai dari telepon operator, receptionist, bellboy, waiters telah ia jalani.

Nasir betul-betul mencintai pekerjaannya. Tidak jarang ia bekerja lebih dari jam kerja tanpa terlalu berhitung gajinya. Ia juga telah makan garam de­ngan bekerja di berbagai kota mulai dari Palembang, Bengkulu, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, Bandung hingga masuk di Solo tahun awal 2013.

“Saat di Lampung, saya meniti hotel brand international. Dari situ semakin banyak belajar. Meniti dari sana, dari awal sampai sekarang, saya masih belajar. Konon saya orang Indonesia pertama yang jadi GM brand international. Saya diangkat jadi GM saat krisis 98. Tantangannya di situ, saat situasi bergejolak saya harus bisa cari duit dan membayar karyawan,” bebernya.

Background pendidikan agama yang kuat tidak hilang dalam diri Nasir selama karirnya di dunia perhotelan. Lelaki kelahiran Palembang, 31 Mei 1957 ini justru bangga dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat. Tidak jarang kawan-kawannya bercanda akan latar belakangnya itu. “Kamu ini kyai yang jadi GM atau GM yang jadi kyai,” kata bebe­rapa kawannya berkelakar.

Bagi Nasir, kerja di bidang perhotelan mengajarkan diri untuk bisa mengalahkan diri sendiri. Dunia hotel merupakan dunia kerja dimana seseorang langsung merasakan apa yang ia kerjakan untuk orang lain.

“Kalau kita mengerjakan pekerjaan itu dengan baik maka kita akan merasakan kepuasan tamu. Sebaliknya, kalau tidak baik maka tamu akan kecewa. Hal itu mengajarkan agar kita bisa mengalahkan diri sendiri dengan menempatkan diri sebagai orang lain,” tutur bapak tiga anak ini.

Saat ini, Nasir fokus membesarkan Aston Hotel Solo di tengah persaingan hotel di Solo yang kian ketat. Selama 24 jam, ia “menjaga gawang” Aston Hotel Solo lantaran ia tinggal di dalamnya.

Di sela kesibukannya, suami Dewi Andika ini tidak lupa menyalurkan hobi jalan kaki setiap pagi di seputaran Ngarsopuro.  Selain itu, ia juga hobi main tenis, membaca buku dan memasak.

“Kalau Minggu pagi, saya jalan kaki ke Klewer dan Ngarsopuro,” katanya.

Editor : Eddie Mutaqin

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge