0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Warga Boyolali Mulai Kekurangan Air Bersih

dok.timlonet/nanin
Debit air di bak penampungan dari sumber air di Gunung Merbabu mulai mengecil, warga terpaksa antri (dok.timlonet/nanin)

Boyolali —  Masyarakat yang tinggal di daerah rawan kekeringan air bersih mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya sumber air yang rusak dan tidak terpelihara
dengan baik, seperti di wilayah Kecamatan Selo, Boyolali.

Misalnya di Desa Suroteleng, saat ini warga yang menggunakan sumber air Tuk Luwar, sudah merasakan kesulitan air bersih. Hal ini dikarenakan mata air yang ada kondisinya tidak terpelihara dengan baik. Selain itu, sumber air Tuk Luwar yang ambrol saat erupsi Merapi 2010 lalu hingga saat ini belum diperbaiki. Untuk mencukupi kebutuhan air bersih, warga menggunakan sumber air Tuk Babon.

“Tuk Babon ini kan jaraknya sekitar 10 Kkm, dimanfaatkan ribuan warga, debit air sudah mengecil, pemkab harusnya segera proaktif,” ungkap Luwarno, tokoh masyarakat Boyolali yang juga mantan Camat Selo, Selasa (30/6).

Selain Selo, dijelaskan, masih ada beberapa wilayah yang rutin dilanda bencana kekeringan, seperti Kecamatan Musuk, Selo, Cepogo dan Kemusu. Pihaknya berharap, pemkab segera melakukan antisipasi sejak dini sebelum
wilayah rawan kekeringan benar-benar mengalami krisis air.

“Dampak El Nino tahun ini, kemungkinan besar kemarau semakin panjang,” imbuhnya.

Terpisah, Hartono, Kepala Markas PMI Boyolali menyatakan hingga saat ini pihaknya masih mengumpulkan dana dari para donatur untuk bantuan air bersih. Jumlah bantuan yang akan disalurkan PMI nanti akan disesuaikan
dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan untuk proses distribusi air bersih, PMI Boyolali masih menunggu pinjaman mobil tangki dari PMI Provinsi Jateng.

“Tahun kemarin ada 181 tangki air yang kita salurkan,” tambahnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge