0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mbah Marto Pawiro, Sang Penjaga Warisan Pusaka Dunia

dok.timlo.net/nanang rahadian
Mbah Marto Pawiro (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar – Marto Pawiro, seorang kakek berusia 94 tahun masih produktif berkarya membuat wayang di usia senjanya. Kakek luar biasa ini masih memegang teguh tradisi, ratusan wayang sudah di hasilkan dari bengkelnya yang sederhana itu.

Setiap harinya, sejak pagi di rumah sederhana di Desa Gantiwarno, Kecamatan Matesih, Karanganyar, kakek yang masih terlihat sehat itu memulai harinya dengan bahan baku dan perlalatan yang akan digunakannya untuk bekerja. Pertama yang dilakukannya adalah membuat sketsa di atas kulit sapi sebagai bahan pembuat wayang.

Usai sketsa, kulit secara perlahan ditatah dengan alat yang sangat sederhana dan memerlukan konsentrasi yang tinggi agar wayang tersebut sempurna. Usia tua tak mengurangi ketelitian Marto Pawiro detail wayang buatannya tak kalah halus dengan para pengrajin muda sebuah karya yang luar biasa dari seorang yang belajar secara otodidak.

“Ya seperti ini tiap harinya, lumayan untuk mengisi hari tua dan ada tambahan buat beli beras,” kata Marto Pawiro.

Dirinya mengenal wayang sejak sekolah rakyat (SR) atau sekolah dasar. Marto berceita bahwa dirinya sejak kecil suka mengggambar. Bahkan karena alat tulis belum banyak, dirinya sering menggambar wayang di batu besar di sungai dekat rumahnya dengan areng.

“Saya itu orangnya serba bisa, dan karena itu saya jadi bisa membuat wayang. Dulu sejak kecil saya suka membuat mainan, dari daun nangka. Kalau ada kertas bekas, saya gambari wayang. Hasil dari menjual wayang tidak seberapa, makanya saya juga seorang petani. Kalau tidak bertani, uangnya tidak cukup untuk hidup,” kata Marto.

Hasil karya Marto Pawiro sudah kondang dimana-mana. Banyak yang sengaja datang ke desanya hanya untuk membeli dan memesan wayang. Salah satunya adalah Budi Raharjo, warga Gondangrejo. Menurutnya wayang buatan Mbah Marto sangat halus dan detail, pewarnaannya cukup bagus tidak cepat pudar.

“Saya sudah dari dulu sering pesan ke Mbah Marto. Selain wayang, simbah juga bisa buat gamelan,” kata Budi.

Dulu, Mbah Marto bisa menyelesaikan satu buah wayang dalam satu minggu. Namun kini dengan tubuh yang semakin renta mbah Marto membutuhkan waktu satu bulan untuk membuat satu wayang.

Ada wayang yang berkualitas tinggi yang masih di simpan di peti besar. Jika biaya hidup semakin mendesak, wayang kulit inilah penyelamat keluarganya. Harga wayang mulai dari Rp 400.000 hingga jutaan rupiah tergantung kualitasnya.

Dengan dipilihnya wayang sebagai warisan pusaka dunia. Tak berlebihan jika menyebut Mbah Marto sebagai Sang Penjaga Warisan Pusaka Dunia.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge