0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Polemik Sastrawan Indonesia di Balik Frankfurt Book Fair 2015

dok.merdeka.com

Laksmi Pamuntjak

Timlo.net – Isu kurang menyenangkan muncul di balik posisi Indonesia sebagai tamu kehormatan (guest of honour) dalam Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Polemik muncul karena ada tuduhan bahwa Komite Nasional Indonesia untuk Frankfurt Book Fair (FBF) 2015, yang diketuai Goenawan Mohamad, mempunyai skenario khusus untuk memunculkan dua penulis untuk dijadikan bintang utama dalam pameran di negara bagian Hessen, Jerman, itu.

Dua penulis itu adalah Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori, sastrawan yang memang dikenal dekat dengan Komunitas Utan Kayu/Salihara, asuhan Goenawan Mohamad.

Tuduhan muncul pertama kali dari Linda Christanty lewat dinding akun Facebook-nya. Adalah pemberitaan di situs DW Indonesia pada 23 Juni 2015 yang membuat pemenang Khatulistiwa Literary Award 2004 itu mencium aroma skenario ‘bintang utama’ tersebut.

Dalam berita di media Jerman versi bahasa Indonesia itu tertulis, “Dari 13-18 Oktober Indonesia akan tampil di Frankfurt sebagai Tamu Kehormatan. Yang cukup mengejutkan, kebanyakan yang memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya adalah penulis perempuan.”

Linda menyatakan, fenomena atau kecenderungan penulis perempuan menulis tentang tema 1965 tidak ada sama sekali. Menurutnya, penulis Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, mengisahkan peristiwa tersebut dalam karya-karya mereka sejak masa Soeharto sampai hari ini.

“Itu (kecenderungan penulis perempuan) kebohongan yang luar biasa,” tulis Linda di dinding akun Facebook-nya, Rabu (23/6).

Linda memaparkan, penulisan dan penerbitan karya fiksi yang mengisahkan peristiwa 1965 bahkan telah dimulai tidak lama setelah Soeharto berkuasa. Sebut saja Noorca M Massardi dengan novel ‘September’, Umar Kayam dengan cerpen ‘Sri Sumarah dan Bawuk’ dan dan Ahmad Tohari dengan trilogi novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’.

Linda mencurigai, pengarahan tema 1965 hanya demi mengangkat nama Laksmi dan Leila, yang masing-masing merupakan penulis novel ‘Amba’ (2012) dan ‘Pulang’ (2014). Kedua karya fiksi itu memang bertema 1965.

Sastrawan AS Laksana juga mencium pengarahan tema 1965 demi memunculkan bintang utama tersebut. Padahal, tema yang diusung Indonesia sebagai tamu kehormatan adalah ‘17.000 Islands of Imagination’.

“Alih-alih memperkenalkan keberagaman tema karya sastra Indonesia atau mempromosikan imajinasi dari 17.000 pulau, panitia Indonesia justru menyempitkan imajinasi dan menyelewengkannya ke peristiwa 1965 sebagai tema utama bayangan,” kata AS Laksana juga dalam dinding akun Facebook-nya, kemarin.

Ketika pembicaraan tentang 1965 menguat, ujar Sulak, sapaan akrab Laksana, tentu saja akan tampak masuk akal untuk mengedepankan Laksmi Pamuntjak. “Ia menulis novel ‘Amba’ yang bertema 1965. Masuk akal? Tidak!” tulisnya.

Namun bagi Sulak, nama Leila cuma figuran seperti Ahmad Tohari yang juga dihadirkan karena trilogi Ronggeng Dukuh Paruk’ mengangkat tema 1965. “Tetapi Laksmi Pamuntjak yang diarak sebagai bintang utama,” ujarnya.

Ribut-ribut soal Laksmi dalam pameran buku Frankfurt ini pun terus meluas di kalangan publik sastra, khususnya lewat diskusi di media sosial.

Namun, Ketua Komite Media dan Hubungan Luar FBF 2015, Andy Budiman, membantah semua tuduhan yang berseliweran di media sosial dan menyerang pihaknya.

Lewat dinding Facebook-nya, Rabu (24/6) kemarin, Andy juga memberikan klarifikasi resmi. Dia menegaskan, tidak ada persekongkolan dari pihaknya untuk mengarahkan isu 1965 sebagai tema utama.

Andy menjelaskan, dalam konferensi pers di Frankfurt pada Selasa (23/6), Goenawan Mohamad ditanya oleh wartawan apakah ada tema khusus dari Indonesia sebagai tamu kehormatan.

“Saudara Goenawan Mohamad menjelaskan bahwa tidak mungkin ada sebuah tawaran tema khusus, mengingat tahun lalu saja ada sekitar 40 ribu buku yang diterbitkan di Indonesia,” kata Andy.

Andy menjelaskan, publikasi media Jerman atas tema 1965 antara lain karena kehadiran Joshua Oppenheimer, sutradara AS pembuat film ‘Senyap’ bertema 1965, dalam diskusi film di Berlin dan Frankfurt beberapa waktu lalu. Menurutnya, tema 1965 juga semakin menarik bagi masyarakat Jerman karena dekat dengan kehidupan mereka yang pernah terbelah akibat perang dingin.

“Sebagai tambahan, lecture dan diskusi yang diselenggarakan komite, justru lebih banyak berbicara tentang Indonesia, sebagai sebuah negeri berpenduduk mayoritas Muslim yang punya wajah berbeda dari Islam Timur Tengah,” tulisnya.

Andy juga membantah, Laksmi Pamuntjak sengaja dipersiapkan sebagai ‘bintang utama’. Menurutnya, publikasi media Jerman atas Laksmi terjadi karena ‘Alle Farben Rot’ (terjemahan ‘Amba’) diterjemahkan oleh Ullstein Verlag, satu penerbit penting dan tertua di Jerman.

“Penerbit juga bekerja keras mempromosikan buku itu kepada para wartawan,” ujarnya.

Soal tuduhan media Jerman ‘diarahkan’ dalam liputan mereka soal FBF 2015, Andy juga menyangkalnya.

“Sekedar gambaran, para jurnalis ini rata-rata adalah wartawan senior dalam dunia literatur dari media penting di Jerman seperti Die Zeit, Die Welt, DPA, Frankfurter Allegemein Zeitung, ZDF, ARD dll yang mempunyai tradisi dan reputasi panjang dalam sejarah media Jerman,” ujarnya.

“Para wartawan ini secara bebas memilih siapa yang akan mereka wawancara dan apa yang akan mereka tulis. Mereka mengajukan sendiri kepada kami, daftar penulis dan orang-orang yang akan mereka wawancarai,” imbuhnya.

[ren]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge