0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Isu Reshuffle Kabinet, Beranikah Jokowi Copot Puan?

dok.merdeka.com
Kabinet pemerintahan Jokowi (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Belum genap setahun kabinet yang dibentuk Presiden Jokowi bekerja, wacana reshuffle terus bergulir. Belakangan, isu itu semakin kencang dengan hasil-hasil survei yang menunjukkan kinerja beberapa menteri jauh dari harapan.

Jokowi sendiri telah meminta para menteri melaporkan kinerja mereka untuk dinilai. Wapres Jusuf Kalla juga pernah menyatakan jika reshuffle akan berlangsung setelah lebaran.

Beberapa menteri yang menjadi sasaran kritik berasal dari partai. Tapi beranikah Jokowi mengotak-atik susunan pembantunya yang berasal dari parpol pendukungnya?

Minggu (21/6) lalu, Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) merilis hasil survei mereka terhadap responden yakni para profesional di Jakarta. Terdapat empat menteri dengan nilai terendah dalam kinerja di kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

“Di antara mereka ada Yasonna H Laoly (Menkum HAM), Sofyan Djalil (Menko perekonomian), Puan Maharani (Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Sudirman Said (Menteri ESDM),” kata Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina Hendri Satrio di Kedai Kopi, Menteng Jakarta Pusat, Minggu (21/6).

Untuk Menkum HAM Yasonna Laoly sebanyak 52,4% responden minta untuk direshuffle, Menko Bidang Perekonomian Sofyan Djalil sebesar 50,8%, sedangkan Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani sebesar 59,6% dan terakhir Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said sebesar 38,4%.

Menurut Satrio, responden menilai menteri perlu dirombak atau tidak berdasarkan kinerja. Seperti dalam memahami tugas dan fungsi pokok kementerian, pemahaman visi kementerian, pemahaman proses pengambilan keputusan dan pemahaman kebijakan kementerian.

“Mereka justru lebih memilih menteri yang miskin terobosan dan lebih banyak diam. Dibanding menteri banyak terobosan tapi kontroversial dan cari aman,” kata Satrio memberikan keterangan kepada awak media.

Selanjutnya Satrio menilai Menteri Sofyan Djalil bernilai rendah karena kondisi perekonomian Indonesia yang labil.

“Mereka kan berasal dari kalangan kelas menengah yang paham dengan ekonomi. Ada kekhawatiran dari harga kebutuhan pokok mahal, harga bbm mahal dan biaya berobat yang mahal,” terangnya.

Dari survei ke seluruh menteri, Puan Maharani menduduki posisi teratas untuk dirombak. Kenapa?

Dari survei ke seluruh menteri, Puan Maharani menduduki posisi teratas untuk dirombak. Bagi Satrio, hal ini karena sentimen masyarakat kepada Puan sebagai anak mantan Presiden Megawati.

“Faktor karena dia anak Mega paling kuat sehingga masyarakat tidak suka. Selain itu, Puan minim terobosan dan tidak begitu kenal di publik. Semisal Puan direshuffle citra Jokowi akan semakin baik,” tambahnya.

Survei dilakukan kepada 250 responden berasal dari kalangan profesional dengan posisi minimal asisten manajer. Mereka bekerja di wilayah segi tiga mas Jakarta, pada wilayah Kuningan, Thamrin dan Sudirman. Berpenghasilan minimal Rp 5 juta per bulan. Survei menggunakan metode purposive sampling tanggal 26 Mei sampai 3 Juni 2015.

Hasil survei itu mengafirmasi bahwa beberapa menteri yang tidak disukai justru dari PDIP sendiri. Namun, sekali lagi, beranikah Jokowi menggusur Puan dari kabinet?

Saat ditanya soal reshuffle ini, Presiden Jokowi mengaku belum memutuskan. Dia bahkan belum membaca laporan kinerja para menteri enam bulan terakhir dan rencana kerja enam bulan ke depan.

“Nantilah nanti, ntar malem habis Tarawih saya baca,” kata Presiden usai buka bersama di rumah dinas Ketua MPR Zulkifli Hasan di Kompleks Menteri Widya Chandra Jakarta, Senin (22/6).

Presiden yang didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan bahwa evaluasi para menterinya tidak dilakukan hanya enam bulan.

“Evaluasi itu saya lakukan setiap minggu, setiap bulan,” kata Jokowi sambil meninggalkan para wartawan. [bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge