0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pulang Kampung, TKI Malah Bunuh Diri

Ilustrasi mayat (merdeka.com)

Timlo.net — Entah apa yang ada di pikiran Made Natih Astika alias Aka (24), pemuda asal Banjar Mekar Sari, Desa Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali. Pria yang bekerja sebagai TKI itu nekat terjun dari atas jembatan usai pulang dari Jepang.

Informasi yang didapat, putra ke dua dari pasangan pasutri Ketut Sudi Ardiata (50) dengan Ni Wayan Sri Wulandari (37) Minggu (21/6) sekitar pukul 16.00 WITA dia tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai dari Jepang. Dalam perjalanan menuju ke Jembrana, saat naik taksi tiba-tiba minta berhenti di wilayah Tabanan. Kepada sopir taksi, Aka ijin kebelet buang air kecil. Saat itu Aka langsung menuju jembatan Pucuk di Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan.

Di Jembatan tersebut, bukannya buang air kecil, Aka justru melucuti aksesoris di tubuhnya, seperti jam tangan, handphone, dompet dan tas gendong serta membuka semua pakaian yang dikenakan hingga telanjang bulat. Barang-barangnya itu dia letakkan di pinggir jembatan.

Dalam kondisi telanjang bulat, Aka kemudian menceburkan diri dari jembatan setinggi 15 meter dengan posisi kepala di bawah. Aka pun seketika tewas di tempat.

Kejadian tersebut, kemudian dilaporkan ke Polres Tabanan oleh sopir Wayan Sariana (43) didampingi salah seorang kernet bus yang melintas Abdus (56) asal Banyuwangi. Untuk sementara, korban diduga nekat mengakhiri hidupnya lantaran depresi berat.

Sementara itu, ditemui di rumah duka, Ketut Sudi Ardiata (50) orangtua korban didampingi Bendesa Perancak Nengah Parna (59) mengaku mengetahui anaknya meninggal setelah diberitahu oleh kepala desa Perancak Nyoman Wijana dan polisi yang datang ke rumahnya. Menurutnya, sebelumnya anaknya sempat menelepon adiknya Natih Arimbawa dan kakeknya Wayan Nila (80) mengaku akan pulang pada Senin (22/6).

Namun pada minggu kemarin dirinya mendapat khabar kalau anaknya itu meninggal dunia setelah terjun dari Jembatan. “Saya tidak tahu penyebabnya, tapi sebelumnya kepada adiknya, ia bilang kalau pekerjaan di Jepang sangat berat dan pulang dengan tangan hampa,” terang Sudi Ardiata, Senin (22/6).

Menurut Sudi Ardiata, bahwa korban sudah empat tahun bekerja di Jepang. Ia berangkat ke Jepang tahun 2011 mengikuti program Pemkab Jembrana.

“Dua tahun di tempatkan di daerah Saetama, ia tidak pernah mengeluh, tapi setelah dipindah ke daerah Baraki, sering mengeluh kelelahan dan ingin cepat pulang kepada adiknya,” tuturnya.
[eko]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge