0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Branjang Apung Marak, Nelayan Mengeluh

Branjang apung beroperasi di wilayah perairan Kecamatan Baturetno

timlo.net/tarmuji

Branjang apung beroperasi di wilayah perairan Kecamatan Baturetno

Wonogiri — Keberadaan branjang apung atau karamba apung meresahkan para nelayan dan pencari ikan di Waduk Gajah Mungkur. Khususnya di wilayah Kecamatan Nguntoronadi dan Baturetno. Pasalnya, branjang apung diklaim merusak ekosistem, dan  semua ukuran ikan dapat tertangkap.

“Jaringnya itu berukuran kecil, dan berpindah-pindah lokasinya. Mereka tidak berani berada diperairan lepas, karena sering dirazia dinas terkait,” ujar Sumitro (50) nelayan asal Desa Beji Kecamatan Baturetno, Minggu (21/6).

Menurut dia, walaupun dilarang pemerintah, namun branjang apung tetap saja beroperasi. Tukang branjang apung bukan anggota kelompok nelayan. Mereka terkadang dicukongi oknum pengepul ikan.

“Kan modalnya banyak kalau membuat branjang, bisa-bisa menelan biaya Rp 2,5 Juta. Tapi, ketika pas musim ikan hasilnya bisa 10 kalilipatnya,” terangnya.

Dikatakan, para pemasang branjang biasa beroperasi di dua wilayah perairan. Yakni Nguntoronadi dan Baturetno. Sebab dua wilayah ini menjorok ke dalam mendekat hulu sungai, sehingga ketika ada razia dari dinas terkait tidak terlihat.

Kondisi ini membuat penghasilan para nelayan berkurang. Pasalnya, jaring-jaring yang dipasang nelayan berukuran standar sesuai aturan pemerintah. Sedangkan razia hanya dilakukan di perairan lepas. Seperti diwilayah Kecamatan Wuryantoro dan Eromoko saja.

Hal senada dituturkan Sutino (45) pencari ikan asal Boyolali ini, dia saban hari menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan diperairan WGM ini, terutama di wilayah Baturetno. Ia pulang pergi, Boyolali-Baturetno demi mencukupi nafkah keluarganya.

“Padahal ini musim ikan, tapi kalah dengan branjang apung mas,” ujarnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge