0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hebat! Anak Penyadap Karet Ini Lulus IPB dengan IPK 4

Facebook Parara Wendy Indarjo. ()

Timlo.net — Parara Wendy Indarjo, mahasiswa Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Institut Pertanian Bogor (IPB) sukses lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.

Parara merupakan mahasiswa asal Sampit, Kalimantan yang mengambil studi pada Jurusan Departemen Matematika, FMIPA, IPB. Ia mengaku dengan segala keterbatasan yang ada, ia berangkat ke Bogor dengan mengandalkan beasiswa Bidikmisi.

“Ayah saya bekerja sebagai petugas yang membersihkan semak belukar, menyadap getah karet di Inhutani,” ujar Parara, Jumat (19/6).

Penghasilan orangtua sebagai pekerja rendahan tak menghalangi anak kedua dari 3 bersaudara ini lulus 4 bulan lebih awal dan meraih gelar cum laude dengan IPK sempurna 4,00. Sebanyak 53 mata kuliah yang diikutinya semuanya memberikan hasil yang memuaskan, semua nilainya A.

Selama kuliah di IPB, berbagai prestasi berhasil diraih oleh putera Sampit ini, sebut saja penghargaan sebagai ketua Klub Asrama TPB IPB Terbaik, mahasiswa Berprestasi Asrama TPB IPB, Juara 1 Gumatika Calculus Cup, Juara 2 Lomba Debat ‘Nasionalisme’ Fateta se-IPB tahun 2012, Juara II Kompetisi Statistika Dasar Statistika Ria tahun 2013, serta pada tahun 2014 Parara berhasil meraih prestasi sebagai Mahasiswa Berprestasi Departemen Matematika IPB, Juara 2 Danone Young Socio Entrepreneur dan Juara 2 Kompetisi Essay Nasional Statistika Ria.

Dengan berbagai pencapaian prestasi tersebut, bukan berarti dia raih tanpa rintangan dan kegagalan. Keterbatasan ekonomi mengharuskannya untuk lebih pintar mencari penghasilan tambahan. Dengan menjadi pengajar privat mata pelajaran matematika bagi mahasiswa di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) IPB, Parara mendapatkan tambahan pemasukan.

Dengan menjadi pengajar les privat, Parara bisa mendapatkan Rp 2,5 juta setiap semester. “Menikmati hasil jerih payah sendiri rasanya lebih nikmat bagi saya,” jelas Parara.

Namun demikian, kesuksesannya nilai akademiknya tersebut bukan berarti tanpa kegagalan. “Memenangi Lomba Essay Nasional Statistika Ria 2014 menjadi momen ‘pecah telur’ bagi saya dalam mengikuti lomba essay. Sejak tahun pertama saya kuliah pada tahun 2011, sudah berulang kali mencoba ikut kompetisi essay, namun terus saja gagal. Namun akhirnya bisa memenanginya,” ujarnya.

“Terlebih, lomba tersebut sejatinya adalah lomba dalam ranah keilmuan statistika yang bukan nature saya. Alhamdulillah, dari momen tersebut, saya rasakan betul kebenaran pepatah, gagal adalah kesuksesan yang tertunda,” tambahnya.

Selama kuliah Parara juga merupakan mahasiswa yang aktif. Mulai menjadi ketua klub asrama, bergabung dengan himpunan mahasiswa jurusan, hingga menjadi aktivis lembaga dakwah kampus pernah dilalui juara olimpiade matematika SMP dan SMA ini. Adik kelas di IPB Tingkat Persiapan Bersama yang mendapat mata kuliah pengantar matematika atau kalkulus pasti pernah mendapatkan bimbingan koordinator tutor sebaya klub asrama ini.

Berbekal doa dari kedua orangtuanya, Parara kini berharap dapat melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Ditanya soal tips dan trik, Parara tak sungkan membagikan motivasinya.

“Sebenarnya sederhana saja, temukan alasan, temukan motivasi. Dengan menemukan alasan, saya percaya kita sudah nyaris sampai pada prestasi, hanya masalah waktu saja. Sebab, dengan memiliki alasan, kita secara reflek akan melakukan usaha-usaha, pengorbanan-pengorbanan untuk mewujudkan apa yang telah kita tekadkan,” jelasnya. [hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge