0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ayah Divonis Mati, Talitha Tak Terima

dok.merdeka.com

Timlo.net – Tiga Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY). Mereka diduga melakukan pelanggaran kode etik dalam kasus narkotika yang melibatkan tersangka Christian.

Ketiganya terdiri dari Hesmu Purwanto (Hakim Ketua), Singgih Budi Prakoso (Hakim Anggota) dan Ebo Muala Maulana (Hakim Anggota). Dalam keterangnnya, sang pelapor, Talitha, mengaku ayahnya, Christian menjadi korban dakwaan vonis hukuman mati atas kepemilikan ratusan ribu butir narkoba yang ditemukan di Apartemen Anggrek dan Apartemen Mediterania.

“Padahal, ayah saya tidak berada dalam TKP atau tidak ditangkap di Apartemen tersebut,” kata Talitha di kantor Komisi Yudisial, Jakarta Timur, Jumat (19/6).

Selain itu, menurut Talitha, ada kejanggalan dari proses penangkapan sampai persidangan Christian di pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pertama, dalam persidangan majelis hakim menggunakan mobil Kijang silver dengan nomor polisi B 7870 ZO sebagai barang bukti yang memberatkan Christian. Padahal, mobil tersebut tak diketahui kepemilikannya.

Kedua, Thalita menambahkan, dalam proses persidangan ada satu saksi kunci Lim Jit Wee yang memberikan keterangan palsu dalam pengadilan.

“Saksi yang diajukan penuntut umum memberatkan Christian. Dalam sidang Lim mengaku mengenal Christian padahal tidak,” katanya.

Kemudian, persidangan tidak menghadirkan saksi kunci yang meringankan hukuman Christian. Namun, kata Thalita, seorang saksi Daulat Tobing tidak hadir dalam persidangan namun terdapat BAP dan surat tuntutan.

Thalita menganggap proses persidangan yang berlangsung dari 28 Agustus 2008 sampai 18 September adalah sesuatu yang tidak adil.

Baginya, Majelis hakim melakukan pelanggaran kode etik dalam peraturan bersama Mahkamah Agung RI No. 02/PB/MA/IX/2012 dan Komisi Yudisial Indonesia 02/PB/P.KY/09/2012 tentang pengaduan kode etik dan perilaku hakim. Yang diduga melanggar kode etik dalam berperilaku adil dan profesional.

“Kita melapor ke Komisi Yudisial karena putusan dalam sidang ini tidak adil, arif, bijaksana dan profesional sehingga merugikan Christian sebagai terpidana mati,” terangnya.

Seperti diketahui, Pada 27 November 2007 polisi menyita 500 ribu butir ekstasi dan uang tunai Rp 2,5 miliar yang masing-masing dikemas dalam dus dari kamar 19 A, Tower Lima Apartemen Taman Anggrek, Jakarta Barat. Kasus ini melibatkan Christian dan dua rekannya Jenny Chandra alias Cece aliat Jet Li, Lim Jit Wee alias Kim.

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menjatuhkan vonis mati terhadap Christian dan dua rekannya itu pada 2008 lalu.

[rnd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge