0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Agus Mengaku Tak Sendirian Bunuh Angeline

dok.merdeka.com

Angeline

Timlo.net – Tersangka pembunuh Angeline (8), Agustai, menyebut ada keterlibatan orang lain dalam kasus ini. Pengakuannya menjadi alat bukti baru untuk memperkuat penyidikan.

“Itu (keterangan terbaru Agus) menjadi hal menggembirakan dan bisa digunakan sebagai alat bukti untuk menyakinkan hakim di pengadilan,” kata Kapolda Bali, Irjen Ronny F Sompie, Jumat (19/6).

Ronny menyebutkan, keterangan tersebut merupakan kabar yang menggembirakan bagi kelanjutan penyelidikan terkait tewasnya bocah malang itu.

Meski demikian, polisi akan mempertajam keterangan baru itu dengan mendalami bukti dan jejak-jejak di tempat kejadian perkara untuk bisa mendukung pengakuan Agus.

“Alat bukti bisa diperoleh manakala kami mendalami jejak-jejak yang bisa menunjukkan apa yang dijelaskan tersangka itu sebagai saksi tentang keterlibatan orang lain, bisa kami buktikan,” ucap jenderal bintang dua itu.

Tersangka menjadi saksi mahkota atau saksi utama dalam kasus pembunuhan itu menyangkut adanya keterlibatan orang lain yang turut menghabisi nyawa Angeline.

“Itu merupakan hal yang menjadi kemajuan dalam proses penyidikan ini,” imbuhnya.

Sebelumnya, pengacara tersangka Agus, Haposan Sihombing, menyatakan keterlibatan Margriet dalam pembunuhan itu. Menurut Haposan, Agus dipanggil masuk ke kamar Margriet di lantai bawah sekira pukul 10.00 Wita pada Sabtu 16 Mei 2015.

Saat Agus masuk ke dalam kamar, dia melihat Angeline sudah tergeletak lemah tak berdaya dengan posisi badan miring. Rupanya bocah itu tengah sekarat.

“Hanya tangannya yang bergerak sedikit, lalu tak bergerak sama sekali,” kata Haposan menirukan ucapan Agus.

Pada saat itu, Margriet memerintahkan Agus untuk memerkosa Angeline. Namun, permintaan itu ditolak Agus.

“Agus tak memerkosa Angeline seperti selama ini diucapkan. Hal itu dia ucapkan karena dia ditekan, diancam,” kata Haposan.

Karena permintaan itu ditolak, Margriet kemudian meminta Agus untuk melepas baju yang dikenakannya, lalu ditaruh di atas tubuh Angeline yang tidak bernyawa. Termasuk juga soal minta rokok dan disulutkan ke tubuh Angeline untuk pembuktian masih hidup atau tidak.

Margriet kemudian menyuruh Agus untuk mengambil sprei dan membungkusnya. Sore harinya, Agus diminta untuk melarikan diri.

Terkait bercak darah yang ditemukan di kamar Margriet, Haposan mengatakan jika hal itu terserah kepada penyidik.

“Penyidiklah yang memiliki kewenangan untuk menentukan itu semua,” ujarnya.

Pengakuan baru ini meyakini Haposan kalau bukanlah Agus pelaku utamanya. Ia juga meminta polisi bisa secepatnya mengungkap kebenaran. Menurutnya, keterbukaan Agus setelah ia minta pengampunan dosa dan doa dari seorang Pendeta Katolik yang datang langsung ke Polresta Denpasar.

“Selama ini ia berada dalam tekanan. Setelah mendapat kekuatan doa dari pendeta untuk harus bicara jujur jika ingin tak dihantui,” kata Haposan.

Agus dalam keterangannya tak menampik jika Agus diiming-imingi Margriet untuk tak membongkar kasus tersebut.

“Angka pastinya adalah Rp 200 juta. Jumlah ini akan dibayar tanggal 24 Mei. Setelah menunggu sampai tanggal 24 Mei tidak dibayar, Agus akhirnya keluar dari rumah Engeline tanggal 25 Mei karena janji Margriet tidak dibayar,” bebernya.

[hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge