0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Edukasi Bantu Penderita Diabetes Tipe 2 Puasa Dengan Aman

Ilustrasi baca Alquran (dok.timlo.net/gg)

Timlo.net—Penderita diabetes tipe 2 yang memilih berpuasa selama Ramadan bisa memperoleh manfaat dari program edukasi individual, menurut penemuan yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Diabetes Association (ADA) di Boston, Amerika Serikat (AS).

Walaupun penderita diabetes tidak diwajibkan berpuasa, banyak penderita yang memutuskan melakukannya, kata Dr. Mahmoud Ibrahim, seorang endokrinologis dan kepala dari Diabetes Education Center di McDonough, Georgia.

“Misi kami adalah untuk tidak mengabaikan mereka tapi menolong mereka berpuasa dengan lebih aman sebaik yang kami bisa,” katanya dalam wawancara via telepon dengan Reuters.

Menurut Ibrahim, ada dua resiko yang dialami oleh penderita diabetes tipe 2 yang berpuasa selama Ramadan. Pertama komplikasi seperti gula darah rendah, gula darah tinggi, ketoacidosis (sebuah ketidakseimbangan metabolis yang bisa fatal), dehidrasi dan pembekuan darah. Kedua, saat berbuka puasa kebanyakan orang makan dalam porsi besar, hal ini bisa menyebabkan kenaikan berat badan.

“Keputusan untuk berpuasa sebenarnya dipengaruhi oleh tiga hal—orang yang bersangkutan, pemimpin rohaninya dan nasehat medis,” kata Ibrahim. “Semua penderita diabetes tipe 1 atau siapapun yang membutuhkan insulin seharusnya tidak berpuasa, anak di bawah umur seharusnya tidak berpuasa dan tentunya wanita penderita diabetes dan hamil seharusnya tidak berpuasa sama sekali,” tambahnya.

ADA merekomendasikan penderita diabetes tipe 2 yang memilih berpuasa selama Ramadan untuk menerima edukasi cara berpuasa yang aman. Dalam pertemuan ADA itu, Dr. Ibrahim mempresentasikan hasil penelitiannya terhadap 774 pria dan wanita penderita diabetes tipe 2 yang merencanakan berpuasa tahun lalu selama Ramadan. Para peserta penelitian mengunjungi 16 klinik berbeda di Mesir, Iran, Yordania dan Arab Saudi. Sekitar 50 persen dari klinik itu menyediakan program edukasi individual untuk para peserta. Delapan klinik yang lain hanya menyediakan perawatan biasa.

Program edukasi ini membahas tentang perencanaan menu makanan, aktivitas fisik, monitoring glukosa darah dan komplikasi metabolisme akut dan menyediakan rencana perawatan diabetes individual.

Setelah Ramadan, Ibrahim dan timnya menemukan peserta penelitian yang menerima program edukasi memodifikasi perawatan mereka selama Ramadan, memonitor gula darah mereka dua kali per hari dan memiliki pengetahuan yang lebih baik terhadap tanda-tanda dan gejala hypoglycemia. Mereka juga mengurangi indeks massa tubuh secara signifikan dan mengembangkan kendali terhadap glukosa darah. Grup yang ikut program edukasi ini mengalami hypoglycemia yang ringan dan sedang.

Ibrahim menekankan bahwa dia dan rekan-rekannya hanya mereka yang tidak memerlukan insulin dalam penelitian ini dan tidak memiliki komplikasi diabetes. Hasil penelitian Ibrahim dipublikasikan di the British Medical Journal.

 

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge