0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

3 Presiden Pernah Cicipi Sop Buntut di Sini

dok.timlo.net/nanang rahadian
Rumah Makan Bu Ugi di Jl Lawu, Tawangmangu (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Hawa dingin yang selalu menyelimuti Tawangmangu, Karanganyar membuat perut terasa selalu
lapar. Untuk mengusir lapar sekalian hawa dingin, sop buntut merupakan salah satu menu pilihan di dataran tinggi lereng Gunung Lawu  itu.

Rumah Makan Bu Ugi di  Jl Lawu, Tawangmangu langsung menjadi tujuan utama Timlo.net. Sop Buntut Bu Ugi memang paling ramai dikunjungi wisatawan dibanding rumah makan sejenis di daerah itu.

Tak berselang lama, satu porsi sop buntut dengan empat potong buntut sapi dan balungan, potongan wortel besar, dan kentang mememuhi mangkok putih bergambar ayam jago. Irisan daun selederi dan bawang goreng bertaburan di atas mangkuk. Uap yang masih mengepul dari kuah bening sop membawa pesan harum, menggoda siapa saja yang mencium bau sop buntut. Rasa kuah sop yang gurih menemani daging empuk yang menempel pada balung (tulang) sapi.  Sambal kecap dan perasan jeruk nipis menambah nikmat suguhan itu. Sop buntut Bu Ugi segera tandas.

Awalnya, menu andalan Rumah Makan Bu Ugi adalah nasi pecel. “Sampai sekarang juga masih pecel, dan ditambah sop buntut,” terang Yanto Sutrisno, anak pemilik Warung Makan Bu Ugi. Bu Ugi sudah menjual pecel sejak tahun 1950-an di depan Asrama Brimob Karanganyar, seperti tempat ia sekarang berjualan.

“Dulunya hanya berjualan di emperan rumah. Orang-orang dari atas turun ke pasar Tawangmangu, nanti pulangnya mampir beli pecel. Baru 17 tahun terakhir, mencoba menu sop buntut, dan diterima masyarakat,” lanjut Yanto.

Tidak ada resep khusus untuk membuat sop buntut istimewa ala Bu Ugi. Namun Yanto memberi sedikit bocoran soal cara memasaknya, menurutnya  soal lama memasak daging harus diperhatikan karena hal itu sangat berpengaruh pada keempukan daging maupun balungannya. Selain itu Yanto menekankan saat mencuci daging, balungan harus bersih.

“Kalau nggak bersih, nanti kuahnya nggak bening,” lanjut Yanto.

Dengan dibantu 20 orang karyawan yang juga keluarga dekat Bu Ugi, rumah makan ini mengolah dua kuintal buntut dan balungan dalam sehari, omzet sop iga maupun sop buntut Bu Ugi bisa mencapai 150 porsi saat hari libur. Perempuan berumur 83 tahun tersebut mengungkapkan, sebelumnya Presiden Soekarno, Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mencicipi menu masakannya.

“Nama asli ibu saya itu Jami. Ugi diambil dari nama kakak tertua saya, Sugiyono. Orang Jawa kan sering menyebut orang tua kita dengan nama anak pertamanya,” terang pria dengan 12 saudara ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge