0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sadranan, Tradisi Turun Temurun di Lereng Merapi-Merbabu

Masyarakat berbondong-bondong membawa tenong berisi aneka makanan untuk mengelar tradisi Sadranan. (Timlo.net - Nanin)

Boyolali – Hawa dingin pegunungan Merapi-Merbabu, ditambah hujan rintik-rintik, tidak menyurutkan langkah warga menuju ke areal pemakaman. Satu wadah tenong besar berisi aneka makanan dibawa diatas kepala berjalan beriringan menuju ke areal Makam Puroloyo, Desa Sukabumi, Cepogo, dalam tradisi Sadranan.

Tradisi Sadranan biasa digelar masyarakat Lereng Merapi-Merbabu setiap bulan Ruwah atau menjelang puasa. Tradisi turun temurun ini terus dilestarikan masyarakat hingga kini.

Sebelum Sadranan digelar, biasanya masyarakat melakukan gesik atau membersihkan makam. Kegiatan ini dilakukan untuk mengenang ahli waris yang di makamkan di lokasi.

“Kita biasanya bersihkan makam dulu, setelah itu baru berkumpul lagi untuk berdoa bersama dan tahlil,” ujar sesepuh Desa Mliwis, Suparno.

Usai doa dan tahlil, tradisi ini yang paling ditunggu-tunggu, bersama-sama menyantap makanan yang dibawa dalam tenong. Berbagai jajanan pasar, buah-buahan hingga lauk pauk bisa dinikmati pengunjung, baik kerabat maupun warga lain.

“Makanan ini sebagai simbol kita untuk selalu bersedekah,” jelasnya.

Ia bercerita, makna Sadranan sendiri selain untuk mengingat sang Pencipta sekaligus untuk mengenang jasa para pendahulu pendiri Cepogo. Selain itu juga sebagai ajang silaturahmi. Biasanya, warga lokal yang bermukim di luar daerah akan menyempatkan diri untuk datang mengikuti tradisi ini.

Salah satu warga, Mulyono (59), mengaku datang bersama warga satu RT-nya dengan membawa 80 tenong. Setiap tahun, mereka selalu mengikuti tradisi ini. Biasanya usai acara di makam, warga akan langsung pulang. Seperti saat lebaran, dimana warga saling kunjung mengunjungi antar rumah untuk bersilaturahmi.

“Sadranan ini ya bakdonya orang gunung,” ucap Mulyono.

Ada satu hal yang menarik dalam tradisi Sadranan. Setiap tamu yang bersilaturahmi ke rumah salah satu warga, harus menikmati hidangan kecil yang disediakan dan makan besar. Bila tidak menikmati, sang tuan rumah bisa marah.

“Kalau datang ya harus makan. Kalau tidak ya kita paksa,” tambah Mulyono sambil tersenyum.

Tradisi ini diharapkan bisa terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Bahkan kedepan bisa menjadi wisata tersendiri bagi masyarakat luar.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge