0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gunar Setyawan, Spesialis Cagar Budaya dan Karst Gunung Sewu

dok.timlo.net/tarmuji
Gunar Setyawan (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Kesan angker, dengan kumis dan jenggot panjang serta berpenampilan selengekan. Padahal kalau diajak ngobrol penuh keramaha dan canda tawa. Itulah Gunar Setyawan, salah satu pemerhati cagar budaya dan Bentang Karst di Wonogiri.
.
Warga Dusun Ngulu Kidul RT 4/RW 4 Desa/Kecamatan Pracimantoro kelahiran 19 Mei 1973 ini, mengaku enjoi dengan profesi dan hobi yang selama ini digeluti. Tak heran, ia sering menjadi tumpuan referensi tentang cagar budaya dan kawasan karst Gunung Sewu.

Membahas tentang kedua hal itu, bak gayung bersambut, Gunar pun berbicara panjang lebar. Pria berambut gondrong ini mengatakan, Wonogiri memiliki keunikan tersendiri yang sangat jarang dijumpai di daerah lainnya. Menurutnya, Wonogiri merupakan wilayah cagar budaya yang mewakili lima jaman. Yakni jaman pra sejarah, klasik, jaman Islam, kolonial, dan jaman kemerdekaan dengan seabrek bukti nyata.

Wonogiri, dikatakannya, mewakili jaman prasejarah dibuktikan dengan penemuan sejumlah artefak dalam eskavasi di sekitar mulut Goa Song Gilap, Kecamatan Pracimantoro. Juga bentangan alur sungai Bengawan Solo Purba yang kini masih terlihat jelas. Hal ini masih ditambah lagi adanya temuan alat-alat manusia purba dan binatang pra sejarah di goa-goa lainnya. Bahkan, ia sendiri terlibat langsung dalam eskasvasi bersama tim arkeologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jateng.

“Di antara bukti jaman klasik, adanya penemuan Candi Bendo Kasur di wilayah Nguntoronadi,“ ujar Gunar.

Disebutkan, keberadaan Masjid Tiban Wonokerso, Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno dan Masjid Tiban Bakalan, Kecamatan Purwantoro, sebagai bukti jaman penyebaran Islam. Sedangkan jaman kolonial bisa dibuktikan kebenarannya melalui sejumlah benda dan bangunan di sekitar Wonogiri Kota. Seperti rumah dinas Dandim, kantor Dinas Pengairan Energi dan Sumber Daya Mineral, atau Alun-alun Giri Kridha Bhakti. Sementara jaman kemerdekan terlihat dari masih berdiri kokohnya bangunan bekas kantor kawedanan di lima distrik, Kota Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, Jatisrono, dan Purwantoro.

“Intinya banyak cagar budaya di Wonogiri ini. Saya yakin ini masih belum banyak diketahui para pelajar padahal sangat penting,“ tandasnya.

Kemudian salah satu aset besar Wonogiri, terkuak dari adanya alur Bengawan Solo Purba sepanjang 38 kilometer mulai Kelurahan Girikikis, Kecamatan Giriwoyo dan berakhir di Pantai Sadeng, Gunung Kidul, DIY, atau bentang kawasan karst di wilayah Wonogiri.

“Saya sangat bangga jika pengetahuan cagar budaya dan kawasan karst ini diajarkan di bangku sekolah. Sehingga ke depan semakin banyak orang yang mencintai cagar budaya di Wonogiri,“ kata lulusan Fisipol UGM ini.

Kecintaannya terhadap benda cagar budaya, dibuktikannya dengan selalu melakukan pendampingan bagi semua pihak yang ingin belajar secara langsung. Seperti kalangan mahasiswa maupun para pecinta alam. Gunar juga selalu berkoordinasi dengan Pemkab Wonogiri setiap ada kegiatan eskavasi atau pemetaan cagar budaya. Bahkan dengan koceknya sendiri, Gunar memasang papan himbauan kepedulian lingkungan di sejumlah cagar budaya di Wonogiri.

“Jangan sampai khazanah cagar budaya yang mewakili lima jaman perlahan pudar. Mari berupaya menjaganya. Syukur-syukur berusaha memajukannya. Sebab keberadaan cagar budaya sangat berguna hingga di masa mendatang,“ pungkasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge