0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Usai Diperiksa Kejati, Dahlan Sempat Salah Masuk Mobil

Dahlan Iskan (dok.timlo.net/agung widodo)

Timlo.net — Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta telah menetapkan Mantan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan kedua atas kasus dugaan korupsi pengadaan proyek pembangunan 21 gardu induk Jawa-Bali-Nusa Tenggara Barat senilai Rp 1,063 triliun

Ada yang menarik selepas Dahlan diperiksa penyidik Kejati. Saat keluar dari ruang Pidana Khusus (Pidsus), Dahlan nampak linglung. Bahkan, bos Grup Jawa Pos ini sempat salah masuk mobil.

Mobil yang ingin dia masuki itu ternyata milik Kepala Kejati, Adi Toegarisman bermerek Toyota Camry hitam dengan plat nomor B 1040 RFY. Sampai akhirnya, seorang ajudannya mengingatkan Dahlan kalau mobil itu bukanlah miliknya.

Mantan Menteri BUMN ini pun diantarkan ke mobil sedan Mercedes Benz hitam L 1 JP yang sudah menunggu di parkiran. Semula Dahlan menolak berkomentar terkait pemeriksaannya tersebut.

Namun, status Dahlan dalam pusaran korupsi proyek pembangunan 21 gardu induk terkuak setelah Kejati mengumumkan status tersangka Dahlan dalam konferensi pers.

Sebelumnya, Dahlan Iskan yang pernah menjabat sebagai Menteri BUMN ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta. Dahlan diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi pengadaan proyek pembangunan 21 gardu induk Jawa-Bali-Nusa Tenggara Barat senilai Rp 1,063 triliun.

“Tim penyidik menyatakan bahwa saudara DI (Dahlan Iskan) yang diperiksa telah memenuhi syarat untuk dipenuhi tersangka berdasarkan dua alat bukti,” kata Adi dalam keterangan persnya di Kejati DKI Jakarta, Jumat (5/6). Dalam kasus ini, Dahlan dijerat dengan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Kasus ini bermula saat Dahlan menjabat sebagai Dirut PLN. Saat itu, Kementerian ESDM mengerjakan mega proyek 21 unit gardu induk Jawa-Bali-Nusa Tenggara sudah dimulai pada Desember 2011. Nilai proyek ini mencapai Rp 1,063 triliun. Belakangan proyek ini justru terbengkalai.

[tyo]

Sumber : Merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge