0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Saatnya “Ilusi” Masuk Bioskop Komersial

Film "Ilusi" (dok.timlo.net/ist)

Solo Baru — Untuk mendukung kiprah movie maker muda, Platinum Cineplex Hartono Mall, Solo Baru akan memutar film pendek berjudul “Ilusi” karya sutradara Sito Fossy Biosa (Osa), mulai 11 Juni 2015 mendatang. Bukan kali ini saja Platinum Cineplex memberi kesempatan kepada movie maker lokal untuk menunjukkan karyanya kepada masyarakat.

“Kami sudah beberapa kali kami memberi kesempatan kepada sutradara lokal untuk memutar karyanya di sinema kami. Intinya kami ingin memberi ruang kepada para pembuat film lokal, agar karyanya diapresiasi oleh kalangan yang lebih luas. Umumnya, film pendek hanya diputar di festival, atau ruang-ruang alternatif non komersial,” ujar Danang Prabowo, Marketing Executive Platinum Cineplex, Hartono Mall, dalam rilis yang diterima Timlo.net, Jumat (5/6).

Dijelaskan, Film Ilusi berdurasi 30 menit yang diproduksi oleh LOSTE Production; MEDANG KAMULAN Pictures; JC Production tersebut berkisah tentang seorang anak panti asuhan, Lusi, yang membangun sebuah dunia indah dalam khayalannya. Lusi yang gemar menggambar dan melukis itu selalu hidup dalam obyek-obyek gambar yang dibuatnya. Dunia nyata, sekolah juga kawan-kawan di panti tak pernah bisa “menahan” Lusi untuk tinggal. Ia selalu mengembara ke dunia khayal.

“Ide cerita film ini memang berawal dari kesukaan saya berkhayal,” kata sang sutradara, Osa.

Osa memaparkan, tokoh utama film ini adalah Lusi, seorang gadis kecil usia sekolah dasar, yang sangat suka berkhayal. Lusi juga sangat senang menggambar dan melukis. Melalui gambar dan lukisannya, Lusi membangun dunianya sendiri, yang membuat dia merasa nyaman dan bahagia. Lalu, pada suatu ketika, hadir dua sosok misterius dalam dunia khayalan Lusi, yang membuat ia makin jauh dari realitas.

Kecintaan Osa pada tanah kelahirannya, Probolinggo, Jawa Timur, membuat lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini memasukkan banyak beauty shoot yang menampilkan keindahan alam Probolinggo.

“Dalam khayalannya, Lusi kerap menggambar memandangan indah. Melalui gambar dan lukisan Lusi tersebut saya  tampilkan beauty shoot tentang Probolinggo,” imbuh Osa.

Untuk memperkuat muatan local genius dalam film ini, lanjut Osa, dialog yang digunakan memakai bahasa Jawa dialek  jawa timuran dan Madura. Air Terjun Madakaripura dan Pulau Gili Ketapang adalah dua spot wisata yang keindahannya tersaji melalui film ini.

“Film ini wajib ditonton, karena tidak banyak film maker yang membuat film untuk anak,” tandas Danang. (*)

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge