0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Demmy Indranugroho

Merawat “Baby” The Park

Timlo.net - David
Demmy Indranugroho (Timlo.net - David)

Solo Baru —  The Park Mall Solo Baru, menjadi projek pertama sekaligus tantangan tersendiri bagi Demmy Indranugroho. Sebagai Associate Director of Marketing & Communications, Demmy berjuang keras menjadikan The Park sebagai mall yang diminati masyarakat Solo dan sekitarnya.

Mengenalkan The Park bukanlah pekerjaan mudah meskipun masyarakat Soloraya sudah tidak asing dengan mall sebagai pusat perbelanjaaan. Demmy menyadari segmen The Park sedikit berbeda dengan dengan empat mall lainnya yang sudah hadir di Solo dan Solo Baru. Menghadirkan tenan nasional dan internasional, mall dengan luasan total kurang lebih 14 hektar ini menyasar kalangan menengah ke atas.

“PR (pekerjaan rumah) saya waktu itu, memang saat pembukaan The Park Solo ini. Bisa dibilang, The Park ini baby saya yang harus diperhatiin banget,” kata Demmy saat berbincang dengan TimloMagz.

Berbicara soal improvement mall, pengalaman Demmy bisa dibilang sudah teruji. Sebelum menangani The Park, Demmy sudah lebih dulu membawahi beberapa mall yang merupakan group The Park. Diantaranya Cirebon Super Block (Cirebon), Borneo City Mall Sampit, (Kalimantan Tengah), Borneo Mall Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah) dan Bornoe Mall Ketapang (Kalimantan Barat).

Meski sudah terbiasa menangani mall, Demmy harus memutar otak dalam mengenalkan The Park. Kondisi kultur masyarakat Soloraya yang berbeda dengan kota lain membuat Demmy harus pandai mencari terobosan. Ia pun menggandeng komunitas-komunitas yang ada di Solo agar The Park bisa menjadi tujuan. Persaingan dengan empat mall lain juga menjadi pertimbangan tersendiri.

“Akhirnya saya berpikir balik ke Identitas The Park itu sendiri. Kita ini tempat yang luas dan banyak tamannya. Kita fokus ke sana dengan menggaet komunitas-komunitas,” beber dia.

Bemmy juga mengkreasi area Central Park sebagai tempat yang enak bagi anak-anak muda. Di area itu disediakan band dan terkadang disk jockey. Lokasi ini menjadi area outdoor yang nyaman bagi pengunjung.

Meski sebagai mall papan atas, The Park tidak ingin meninggalkan kekuatan lokal. Demmy melibatkan UKM lokal dalam eksibisi yang digelar.

“Kita sadari di sini kebanyakan national tenant dengan standar tertentu. Paling kita masukan beberapa tenan lokal di food court. Harus gitu, kalau nggak ya nggak mungkin 100 persen baru semua,” ujar dia.

Kreasi dan tangan dingin Demmy bersama manajemen The Park pun berbuah manis. Baru-baru ini mereka menyabet penghargaan Satisfactory Award dari sebuah media lokal di Solo. Penghargaan itu membuktikan tingkat kepuasan masyarakat cukup baik. Mengingat The Park merupakan pemain baru yang belum genap 2 tahun di Solo.

Mulai menapaki karir tahun di tahun 1996, lulus S1 dari Jurusan Adminisrasi Niaga Fakultas Administrasi Negara Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Demy sempat bekerja di sebuah perbankan. Dua tahun di dunia perbankan, Demmy kemudian memilih melanjutkan kuliah S2 di Swinburne University, Melbourne, Australia.

Mendapatkan gelar Master di tahun 1999, lelaki kelahiran Jakarta ini kemudian bergelut di dunia advertising di beberapa perusahaan terkemuka. Di tahun 2009, Demmy kemudian masuk di Trans Fashion Indonesia sebagai Head of Marketing and Communications. Baru selepas itu, tepatnya di 2013, ia mulai bergabung dengan PT Nirvana Development sebagai Associate Director of Marketing & Communications hingga sekarang.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge