0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sidak Komisi 6 DPR-RI, Temukan Makanan Tanpa Label Kadaluwarsa

Anggota Komisi 6 DPR RI, Endang Srikarti, menunjukkan produk roti basah tanpa label tanggal kadaluwarsa yang dijual bebas di pasar (timlo.net/nanin)

Boyolali — Komisi 6 DPR RI melakukan sidak ke pedagang di Pasar Boyolali Kota, Sabtu (30/5). Dalam sidak tersebut, komisi menemukan banyak makanan tanpa label kadaluwarsa. Terbanyak ditemukan pada roti basah.

“Masak harus menunggu roti ini berjamur dulu untuk tidak dijual, inikan sangat membahayakan bagi masyarakat,” ujar anggota Komisi 6 DPR RI, Endang Srikarti, sambil menunjukkan produk roti basah tanpa label tanggal kadaluwarsa.

Selain roti, Endang yang didampingi Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Boyolali, juga mengkritik penjualan jelly atau agar-agar kemasan tanpa diletakkan dalam pendingin. Padahal jenis makanan ini sangat disukai anak-anak dan memiliki batas waktu. Penjualan makanan jenis ini tanpa pendingin, harus dikaji ulang.

“Ini kan kesukaan anak-anak, generasi bangsa, harus dilindungi mereka dari bahaya makanan seperti ini,” tambahnya.

Temuan ini nantinya akan dilaporkan dalam rapat Komisi 6 DPR RI. Selain itu, pihaknya juga mendesak dinas terkait untuk lebih ketat melakukan pengawasan terhadap produk-produk makanan. Terlebih, dari sidak di satu pasar saja, banyak ditemukan makanan tanpa label tanggal kadaluwarsa.

“Ini di pasar kota, gimana dengan pasar-pasar tradisional yang berada di pedesaan, pasti lebih parah lagi,” ujarnya.

Disisi lain, salah satu pedagang makanan, Urif Budi Pasetyo, mengaku seringkali mengingatkan kepada produsen makanan, terutama roti untuk mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Namun, produsen yang nakal biasanya tidak akan balik lagi menitipkan makanan.

“Kita kan ingin memberikan kepercayaan kepada pelanggan, sudah berulangkali kita ingatkan,” jelasnya.

Terkait hal ini, pihaknya meminta dinas dan BPOM melakukan tindakan tegas terhadap produsen makanan yang enggan mencantumkan tanggal kadaluwarsa. Pasalnya, bila terjadi keracunan, yang pertama disalahkan adalah pedagang.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge